🎨 Impressions

Perubahan kadang menakutkan. Ada banyak keraguan serta ketidakpastian didalamnya, membuat subjeknya seperti sedang berjalan dalam kabut yang pekat. Belum lagi perubahan yang didorong secara cepat kadang menemui banyak ganjalan dan penolakan. Bahkan dalam politik, perubahan sistem pemerintahan ataupun ideologi melahirkan frasa “revolusi memakan anak kandungnya sendiri”. Karena itulah meskipun agen perubahan selalu di elu-elu kan, hanya sedikit orang yang dapat dan bisa melakukan perubahan. Sedangkan yang pernah mencoba kadang menyerah di tengah jalan atau kehabisan tenaga, waktu, dan spirit.
Buku ini memberikan insight pelengkap bagi buku-buku produktifitas yang pernah aku baca sebelumnya. Kesemuanya di rangkum dalam 3 langkah saja: Direct the rider; Motivate the elephant; Shape the path. Penulisnya sendiri memberikan banyak contoh dan konteks bagaimana ketiga langkah untuk melakukan perubahan tersebut diterapkan. Hal yang menjadi nilai tambah buku ini adalah skala perubahan yang menjadi contoh bervariasi, mulai dari individu hingga organisasi skala besar dengan kemampuan dan jangkauan yang bervariasi.
Walaupun lumayan tebal, teknis “How to make a switch” dapat dibaca di bab terakhir buku ini. Sedangkan bab sebelumnya berisi detil bagaimana setiap langkah teknis tersebut dijalankan. Jadi kalau kamu terburu-buru atau malas membaca, saranku adalah baca bab terakhir lalu tentukan apakah bab awal lainnya layak kamu baca.
Who Should Read It?
Kamu yang sedang dalam proses transisi serta orang yang tahu dan menginginkan perubahan namun kebingungan dan tak segera bergerak sebab tak tahu harus mulai dari mana.
☘️ How the Book Changed Me
- Buku ini memberikan insight bahwa kamu tak harus punya alat yang sophisticated dan kemampuan yang mumpuni seperti expert atau jangkauan kekuasaan yang besar dan luas untuk bisa memulai perubahan. Simple tweaks, cue, or change in environtment pun juga dapat membuat perubahan yang signifikan. Konsep Asimetri sangatlah menarik dan banyak muncul pada berbagai bidang/permasalahan, termasuk ranah perubahan, permasalahan besar dapat diselesaikan dengan perubahan kecil adalah sesuatu yang harus dituju.
✍️ My Top 3 Quotes
- Clarity dissolves resistance.
- Understanding a problem doesn’t necessarily solve it- knowing is not enough.
- In highly successful change efforts, people find ways to help others see the problems or solutions in ways that influence emotions, not just thought
📒 Summary + Notes
Perubahan selalu membawa konsekuensi yang asing dan tidak diketahui. Belum lagi adanya perubahan membutuhkan tambahan tenaga, waktu dan pikiran serta kemampuan untuk beradaptasi.
“Much of our daily behavior, in fact, is more automatic than supervised“
Hal ini sering memunculkan keenganan, penolakan, sehingga orang-orang cenderung kembali pada hal yang sudah biasa dilakukan (mode default). Perubahan atau pola baru cenderung menghabiskan energi dan sudah menjadi hukum alam bahwa kita cenderung ingin mencapai tujuan dengan mengeluarkan energi sesedikit mungkin.
Dalam buku ini Heath bersaudara memberikan 3 Langkah yang perlu dilakukan ketika melakukan perubahan :
- Direct the Rider. What looks like resistance is often a lack of clarity. So provide crystal-clear direction.
- Motivate the Elephant. What looks like laziness is often exhaustion. The Rider can’t get his way by force for very long. So it’s critical that you engage people’s emotional side—get their Elephants on the path and cooperative.
- Shape the Path. What looks like a people problem is often a situation problem. We call the situation (including the surrounding environment) the “Path.”
Pendekatan inilah yang digunakan oleh Heath bersaudara untuk membangun langkah-langkah guna membuat upaya-upaya perubahan dapat dilakukan dengan lebih mudah (not easy, but easier).
Perumpamaan Gajah dan Penunggangnya dapat kita temukan dari Tulisan Jonathan Haidt di bukunya Happiness Hypothesis dan The Righteous Mind. Penunggang mewakili pikiran logis, kemampuan intelektual, dan kesadaran (conscious) sedangkan Gajah mewakili kondisi emosional dan alam bawah sadar (unconscious). Selisih ukuran antara penunggang dan gajah juga mewakili seberapa besar pengaruh masing-masing terhadap pengambilan keputusan yang berpengaruh pada cara hidup dan berbagai hal yang kita lakukan sehari-hari. Ketika Sang Penunggang dan Si Gajah tidak sepakat kearah mana mereka melangkah dan bergerak, timbulah permasalahan. Sang Penunggang mungkin dapat mengarahkan gajah secara sementara dengan menarik tari kekang sekuat tenaga ke arah yang dituju, namun mengingat ukuran Sang Pengendara dan Si Gajah yang berbeda jauh, Sang Pengendara tak akan bertahan lama ketika harus beradu tambang dengan si Gajah dan akan segera kehabisan tenaga. Haidt sendiri menyimpulkan emosi hampir selalu menang ketimbang nalar. Ekstrimnya jika emosi sudah menginginkan sesuatu nalar/justifikasinya dapat dicari belakangan.

“Change is hard because people wear themselves out. And that’s the second surprise about change: What looks like laziness is often exhaustion.“
Direct the Rider
Harus diakui alat dan analisis yang dilakukan oleh nalar kita kadang masuk ke mode yang berlebihan. Penulis mengangkat kasus Malnutrisi di Vietnam. Hasil analisis para ahli selalu berkesimpulan pada masalah kemiskinan, sanitasi, ketersedian makanan sehat, dan lain-lain. Apabila kita diminta memberikan solusi atas masalah tersebut yang ada adalah kelelahan mental karena masalah tersebut terlalu kompleks untuk diselesaikan, butuh banyak tenaga dan dana untuk mengeksekusinya.
Follow the Bright Spot
Penulis mengangkat kisah organisasi Save the Children dalam menurunkan angka malnutrisi di Vietnam. Pendekatan mereka adalah mencari/ikuti Bright Spot atau Mutiara diantara batu karang. Diantara anak-anak Vietnam yang tinggal dalam kemiskinan, sanitasi buruk, dan ketersediaan makanan sehat yang terbatas adakah yang masih tetap tumbuh dengan baik ? Kalau ada apa yang jadi sebabnya ? Kondisi mereka sama namun bisa menghasilkan luaran yang berbeda, apa yang membuat anak itu sehat sedangkan yang lain tidak? Mereka melakukan observasi ke anak-anak yang tetap tumbuh dengan sehat di kondisi tesebut dan mengamati apa yang orang tua/lingkungan mereka lakukan sehingga mereka bisa tetap tumbuh dengan baik. Sehingga didapatlah sebuah cara sederhana namun imbasnya luar biasa, anak yang tumbuh sehat ternyata diberi makan orangtuanya dalam empat waktu makan. Ternyata setelah diteliti lebih jauh anak yang menderita malnutrisi perutnya tidak mampu untuk menyerap nutrisi dalam makanan hanya dalam dua kali waktu makan saja, seperti yang orang tua lain lakukan. Mereka kemudian membuat gerakan baru untuk memberi makan anak-anak dalam empat waktu. Tak banyak perubahan dalam komposisi menu makan yang berpengaruh pada pengeluaran rumah tangga, tapi anak tumbuh dengan baik. Tak perlu merubah banyak untuk mencapai tujuan cukup ikuti bright spot saja.
Script the Critical Move
Untuk mengarahkan penunggang atau sang nalar kata kuncinya adalah kejelasan (clarity). Seringkali kita hanya diberi brief atau perintah yang menggantung dan penuh ambiguitas. Ada dorongan melakukan inovasi tapi kalau percobaannya gagal malah dimarahi. Ada perintah untuk meningkatkan kualitas produk tapi kalau ongkos produksinya jadi mahal juga ditolak. Ini semua disebabkan karena tidak adanya kejelasan. Ketidakjelasan juga membuat keengganan untuk mengambil resiko, “Buat apa saya mengambil resiko yang membuat saya dapat dipecat nantinya”, sikap seperti ini sering muncul pada diri para manajer. Bahkan seringkali menimbulkan “decision paralysis” sehingga perubahan yang diperlukan malah tidak terjadi, ini sering sekali terjadi di level organisasi besar.
“If you are leading a change effort, you need to remove the ambiguity from your vision of change.“
Penulis memberikan contoh perintah yang jelas yang digunakan manajemen Perusahaan Kereta Api Brasil ketika sedang melakukan restrukturisasi. Perintah/Brief nya adalah seperti ini:
- Unblock Revenue;
- Minimize up-front cash;
- Faster is better than best;
- Use what you’ve got.
Walaupun bisa dikatakan manajemen perusahaan itu seperti terlalu pelit, namun perintah diatas sangatlah jelas dan tidak ambigu, sehingga bisa menyelesaikan permasalahan “decision paralysis”.
Point the Destination
Dunia korporasi sering melakukan setting goals dengan memanfaatkan beberapa strategi manajemen seperti: SMART (Specific, Measureable, Achievable, Relevant & Timely); OKR (Objective and Key Result); dan FAST (Frequently Discussed, Ambitious, Spesific, Transparent). Metode-metode ini baik untuk kondisi yang stabil sebab menghilangkan ambiguitas dan ketidakrelevanan. Namun jujur saja jika kamu adalah anak kelas tiga SD yg perlu mengejar cita-citamu lalu menuliskan apa yang ingin kamu raih untuk tahun ajaran baru nanti dalam metode-metode tersebut apakah muncul getaran dalam hatimu? Adakah kamu tergerak untuk segera beraksi? Bagi korporasi yang perlu melakukan perubahan besar, metode tersebut pun menjadi sama banalnya dengan tujuan pribadi. Sulit rasanya terlecut semangatnya ketika harus meningkatkan pendapatan sebesar 15% pada kuartal keempat tahun ini. Pengerak utama perubahan adalah visi. Pak Gita Wirjawan bahkan menamai podcastnya serta selalu menanyakan pertanyaan pamungkas tentang “End Game” kepada tamunya it matters a lot, membatasi visi dalam rangkaian kata pada metode SMART, OKR, dan FAST dalam kurun waktu 1 semester atau 1 kuartal tentu sangat menyesakkan. Apabila Visi sudah terbentuk barulah dipecah-pecah dalam inisiatif-inisiatif kecil seperti pada metode-metode manajemen yg disebutkan diatas, jangan dibalik.
“Destination postcards do double duty: They show the Rider where you’re headed, and they show the Elephant why the journey is worthwhile.“
3 Langkah diatas dapat digunakan untuk mengarahkan sang pengendara.
Motivate the Elephant
Banyak orang yang tahu langkah apa yang harus ia lakukan agar dapat berubah namun tak bergerak sama sekali.
“Because of the uncertainty that change brings, the Elephant is reluctant to move, and analytical arguments will not overcome that reluctance.”
Maka seperti halnya lagu Rahasia Perempuan yang dinyanyikan oleh Ari Lasso, cara satu-satunya adalah “Sentuhlah dia tepat di hatinya, Dia kan jadi milikmu selamanya”.
Sebab kebanyakan inisiatif perubahan yang gagal disebabkan karena:
“We speak to the Rider when we should be speaking to the Elephant.“
Salah satu point penting untuk memotivasi si Gajah adalah pembentukan identitas. Ini adalah motivasi terkuat. Contoh utama yang lumayan bagus adalah terbentuknya identitas sebagai Orang Tua yang mengasuh anak. Sebelum seseorang memiliki anak, identitas sebagai orangtua belum pernah muncul atau melekat pada pribadi orang tersebut, namun begitu orang tersebut memiliki anak dan memulai pengasuhan, identitas tersebut kemudian melekat dalam diri orang tersebut. Karena identitas ini maka orang yang tadinya hanya memikirkan kepentingan dan kebaikan untuk dirinya sendiri kemudian bisa berubah menjadi orang yang mementingkan kepentingan dan kebaikan untuk anaknya, ini termasuk perubahan yang ekstrim. Tak ada hal logis, disini si gajah dalam diri orang tersebutlah yang tergerak melakukan perubahan ekstrim tersebut.
Shape the Path
Apabila Sang Penunggang dan Si Gajah sudah sepakat menuju arah yang sama, seringkali situasi malah kurang mendukung. Bagaimana bisa seorang perokok berhenti merokok ketika orang-orang disekitarnya merokok dan bahkan menawarkan rokok gratis, logika dan niat kuat pun bisa kandas.
Beberapa cara yang disarankan penulis untuk mempermudah jalan perubahan adalah :
Tweak the Environment
Merubah beberapa hal kecil dapat memberikan dampak yang signifikan. Buatlah sebuah sistem yang membuat kebiasaan buruk sulit atau mustahil muncul. Contoh sederhana yg ada dalam buku ini adalah sesederhana merubah posisi duduk, mematikan notifikasi email, dan menyiapkan alat olahraga sebelum tidur atau makan dengan piring atau mangkuk yg lebih kecil. Adapun cara yg lebih sistemik adalah contoh mengenai “sterile cockpit” sebuah istilah yang dikenal di dunia penerbangan dimana sesaat sebelum dan sesudah take-off atau landing kabin pilot harus bebas dari gangguan apapun agar pilot dan co-pilot bisa fokus mengendalikan pesawat. Sebuah perusahaan developer software meniru cara ini dengan memberikan jam steril dari gangguan mulai dari jam 9-12 agar para programmer tidak diganggu hal apapun dan bisa fokus melakukan koding program.
Build Habits
Perilaku yang telah menjadi kebiasaan akan terasa mudah karena sudah seperti terotomatisasi dalam keseharian. Ini sama seperti atlit yang telah memiliki “memory muscle”. Perilaku baru akan menjadi kuat apabila menjadi kebiasaan yang melekat. Beberapa cara seperti mencacah target, membangun siklus kepercayaan diri dan kompetensi, memanfaatkan reward, dan berbagai trik lainnya yang banyak tersedia di buku-buku produktifitas.
Rally the Herd
In ambiguous situations, we all look to others for cues about how to behave.
Seringkali kita sebenarnya cuma ikut-ikutan saja. Maka agar banyak orang dapat merubah perilakunya ke kebiasaan baru maka kita bisa memberikan signal bahwa “begini lho kamu seharusnya bersikap”. Contoh agar orang-orang dapat segera bersikap sebagaimana yg diinginkan adalah dengan menunjukkan bahwa sikap/perbuatan apa yang dianggap normal dan mana yang tidak normal.
Tiga langkah diatas bisa kamu terapkan untuk memulai perubahan baik untuk individu maupun organisasi.



