Buku ini memberikan gambaran mengenai bagaimana Sokola berupaya mengintegrasikan pendidikan yang kontekstual, memiliki nilai tambah, serta berpihak bagi masyarakat adat. Berisi kumpulan tulisan penggiat Sokola. Buku ini di kemas dalam bentuk semi-akademis dan terstruktur sehingga kita dapat memahami dinamika dan proses yang terjadi mulai dari sejarah sokola, pendekatan, strategi, aksi-reaksi dan refleksi Sokola terhadap proses dan dinamika yang selama ini mereka alami dalam mendampingi masyarakat adat.
Pengalaman Sokola dalam memberikan pendidikan literasi dasar ini banyak diperoleh dari Sokola Rimba. Mungkin karena sokola rimba adalah program pertama dan terlama mereka. Bagi yang sudah pernah membaca Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba, tidak ada hal yang baru. Hanya strukturnya saja yang disesuaikan.
Cerita mengenai pencarian anggota atau volunteer, serta pengalaman volunteer di lapangan benar-benar mewakili realita yang ada. Semangat menggebu diawal, Keragu-raguan, hingga ketidakberdayaan karena ekspekatasi dan realita yang berbeda dilapangan. Jadi volunteer itu tidak mudah, namun membaca pengalaman langsung dari tulisan para volunteer sokola di buku ini juga membangkitkan rasa optimisku, bahwa masih ada yang peduli pada nasib masyarakat yang termarjinalkan ini.
Keunikan setiap masyarakat tradisional juga banyak diceritakan dalam buku ini. Orang rimba berjumlah ribuan dengan ruang gerak puluhan ribu hektar, sedangkan warga pesisir makassar hidup berimpitan. Bagaimana kehidupan warga asmat ketika keterisolasian mereka dari dunia luar tiba-tiba hilang. Pengalaman mengenai cara hidup masyarakat adat, aktivitas sehari-hari, aktivitas dengan dunia luar hingga bagaimana setiap masyarakat memandang pendidikan dan bentuk kesuksesan secara berbeda-beda. Hal ini membuat kurikulum pendidikan dan cara pengajaran yang selama ini dianggap normal menjadi kaku, berjarak dan tidak relevan bagi masyarakat adat.
Efek dari pendidikan literasi dasar yang diberikan Sokola kepada masyarakat adat membuatku mengkalibrasi ulang cara berfikirku tentang pendidikan. Dari buta huruf menjadi melek huruf benar-benar memberi efek langsung yang luar biasa. Masyarakat adat bisa melangsungkan jual-beli yang adil dan menguntungkan, mereka tidak lagi mudah tertipu atau dicurangi, bahkan pada kasus tertentu dapat mengadvokasi dirinya dan komunitasnya sehingga punya daya tawar. Itu baru dari masyarakat yang buta huruf ke melek huruf, lalu bagaimana dengan kita yang sudah melek huruf lebih dulu ? Epilog buku ini mengajak kita masuk ke dalam tahapan literasi kritis, tahapan setelah melek huruf yang selama ini masih kita abaikan.
Share the Post:



