
Lebih Senyap dari Bisikan by Andina Dwifatma
My rating: 4 of 5 stars
Amara dan Baron adalah pasangan kelas menengah yang tinggal dipinggiran Jakarta dengan kondisi ekonomi yang berkecukupan meskipun banyak cicilan. Mereka berdua sebenarnya hidup bahagia. Hanya saja ketika mereka menginjak usia 30 an dan tahun pernikahan ke 8, mereka masih belum dikaruniai anak. Tekanan sosial dari keluarga dan orang-orang disekitar agar mereka mempunyai anak semakin besar. Tekanan ini lebih banyak ditujukan kepada Amara ketimbang Baron.
Ada kemiripan antara Kim Ji-Yeong Lahir Tahun 1982 dengan buku ini yang membuatku merasa De Javu. Sebuah kisah tentang kehidupan sepasang suami istri dengan berbagai permasalahannya, tentu tak sama persis, namun permasalahan yang diangkat masih sama yaitu ketika Perempuan harus menanggung banyak beban domestik dan kemasyarakatan, sehingga sering disudutkan dan dianggap sebagai pihak yang bersalah dalam sebuah institusi keluarga terlebih untuk urusan pernikahan, reproduksi, pekerjaan, hingga pengasuhan anak, sedangkan apabila Laki-laki mengalami hal serupa, hampir tak pernah dipermasalahkan atau dihakimi sama sekali. Tentunya kisah Amara lebih bermuatan lokal dan terasa lebih familiar.
Permasalahan yang diangkat di buku ini cukup kompleks namun disajikan dengan bahasa yang mudah dan lugas meski terkadang seperti rentetan keluhan yang tak henti-henti, penggunaan sudut pandang orang pertama membuatnya harus mengikuti sikap dan pembawaan tokohnya. Inilah yang membuat pembaca dapat memahami bahwa tokoh Amara bukanlah superwoman atau supermom, ia perempuan biasa, dan apa yang dialami Amara juga terjadi pada perempuan lainnya.
Alur ceritanya standar 3 babak, latar kehidupan Amara dan Baron sebagai warga Ciputat sangat mewakili emerging kelas menengah, hanya saja untuk beberapa hal, build up nya cenderung terburu-buru. Ekspektasiku agak tinggi terutama tentang Saliman, ia adalah orang yang muncul dalam kalimat pembuka buku yang dianggap sebagai biang kerok konflik, hal ini membuatku mengira kekacauan yang ditimbulkan oleh Saliman akan besar, namun ternyata tidak sebesar yang aku kira.



