
Sapi, Babi, Perang dan Tukang Sihir: Menjawab Teka-teki Kebudayaan by Marvin Harris
My rating: 3 of 5 stars
Buku yang sangat menarik dari sudut pandang Antropologi Materialistik. Premisnya adalah setiap fenomena kebudayaan yang dianggap terlalu rumit dan kompleks serta akarnya sulit diurai dan telah diterima oleh berbagai pihak sebagai ketetapan langit dan dewata sebenarnya memiliki penjelasan logis yang mengakar pada permasalahan praktis dikehidupan sehari-hari. Baru membaca prolognya saja aku sudah terkesan, wah ambisius sekali penulis ini.
Topik pertama yang dibahas adalah mengenai suci nya sapi bagi orang hindu. Penulis dengan rapih memberikan argumen dan alasan-alasan mengapa sapi suci punya dasar praktis yang kuat. Topik tentang Pecinta & Pembenci Babi pun begitu baik disampaikan. Semuanya bermuara pada daya dukung lingkungan. Untuk tema sapi dan babi aku masih dapat mengikuti dengan baik. Memasuki bab perang primitif, pejantan buas, dan potlach banyak mengingatkanku pada tulisan jared diamond di The World Until Yesterday: Apa yang Dapat Kita Pelajari Dari Masyarakat Tradisional?, bab tentang agama kargo mengingatkanku akan berbagai kultus yang muncul di Indonesia belakangan ini yang mengklaim punya akses ke harta rahasia presiden soekarno atau harta peninggalan majapahit. Baru ketika masu ke topik mengenai Juru Selamat aku benar-benar tak dapat mengikuti dan mengerti banyak, mungkin karena itu bukan termasuk topik yang aku senangi dan dalami, serta tokoh-tokohnya aku pun tak kenal, tapi kemunculan sang mesianis atau ratu adil ini masih bisa dikaitkan dengan fenomena yang ada di Indonesia. Bab tentang tukang sihir sendiri juga mengingatkanku tentang praktik perdukunan yang pernah heboh di tahun 80-90 an. Aku tahu itu karena ingat ada satu film dimana Rano Karno disumpah pocong..hahaha
Setelah menyelesaikan buku ini dan melihat daftar pustaka aku baru sadar bahwa buku ini pertama kali terbit tahun 1974 dan sumber-sumbernya pasti lebih lama lagi. 50 Tahun berlalu dan masih relevan. Setidaknya ini menjelaskan mengapa penulis memasukkan pembahasan mengenai budaya tanding atau counter-culture dimana menjelaskan penggunaan halusigenik yang trend di era itu, suatu hal yang agak aneh sebab counter-culture yang kupahami sekarang bukan lagi seperti itu yg dideskripsikan dibuku ini. Terlebih lagi penulis menyebutkan era kesadaran III membuatku sadar kalau ini tulisan lama, sebab jika tulisan baru harusnya kesadaran 4.0 dong..hehehe



