
The Righteous Mind: Mengapa Orang-orang Baik Terpecah Karena Politik dan Agama by Jonathan Haidt
My rating: 4 of 5 stars
Cover buku ini kurang menarik perhatian. Jika saja buku ini tidak direkomendasi oleh beberapa orang, aku mungkin akan melewatkannya. Model cover ini mengingatkanku akan buku teks kuliah atau sekolah, jika bukunya tentang kimia maka gambar covernya adalah alat lab kimia atau visualisasi rumus kimia, jika tentang sejarah maka muncul gambar artefak peninggalan suatu peradaban. Nah, cover buku ini bergambar Gajah dan sekelompok orang dalam suatu festival, agak susah menebak ini maksudnya apa, mungkin yang bawah berkaitan dengan agama dan yang atas gambar gajah berkaitan dengan lambang partai republik yang kebetulan adalah gajah, pikirku.
Ternyata tebakanku salah, makna gajah dan penunggangnya dalam cover adalah metafora yang penulis sampaikan dalam bagian pertama bukunya yaitu Intuisi duluan penalaran strategis belakangan. Ia mengumpamakan Gajah dan Penunggangnya sebagai satu kesatuan yang membentuk moral manusia. Gajah mewakili emosi dan penungganggnya mewakili nalar kita. Ukuran gajah yang lebih besar ketimbang penunggangnya mewakili emosi yang lebih dominan ketimbang nalar. Penunggang sebenarnya adalah abdi si Gajah bukan sebaliknya. Dalam banyak hal, secara tidak sadar kita lebih menuruti emosi, kemudian mencari justifikasi atas hal tersebut. Agak sulit untuk membuktikan ini karena si Gajah dan Penunggang lebih sering berjalan seirama. Untuk membuktikan bahwa si Gajah lebih dominan, Haidt dalam penelitiannya mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat penjawabnya tercengang secara moral (morally dumbfounded), istilah baru yang sangat aku sukai. Hehe. Tes ini semacam stress test untuk membuktikan batasan antara logika dan emosi, ketika diberi permasalahan/pernyataan yang sebenarnya memiliki jawaban yang logis (walaupun menyebabkan ketidaknyamanan), si penjawab malah mencoba mencari justifikasi lainnya yang bertentangan dengan logika akibat mengikuti emosi.
Bagian kedua adalah pengenalan mengenai konsep matriks moralitas, Haidt mengumpamakannya seperti reseptor rasa pada lidah, ada bagian tertentu yang lebih sensitif terhadap rasa tertentu. Ada 5 matriks moral yaitu Mengayomi, Ketidakcurangan, Kesetiaan, Kewenangan, Kesakralan. Berdasarkan 5 matriks ini Haidt menemukan bahwa Liberal dan Konservatif memiliki proporsi yang berbeda untuk setiap matriks. Liberal lebih memprioritaskan Mengayomi dan Ketidakcurangan sedangkan Konservatif secara rata mempertimbangkan semua matriks, namun dibandingkan dengan Liberal kaum Konservatif lebih menghargai Kesetiaan, Kewenangan/Otoritas, dan Kesakralan. Disinilah polarisasi yang terjadi dalam politik dan agama bisa lebih mudah di pahami.

Bagian ketiga berkesimpulan bahwa moralitas mengikat dan membutakan. Pada bagian ini Haidt banyak menghubungkan munculnya matriks moral pada manusia dari sisi evolusi biologi. Hal yang banyak berhubungan dengan The Selfish Gene, terutama mengenai seleksi individu dan altruisme. Satu hal yang membuat Haidt berbeda pendapat dengan Dawkins adalah Haidt sependapat dengan Durkheim bahwa evolusi moral dapat terjadi dalam kelompok, tidak hanya pada level gen atau individu seperti yang dikemukakan Dawkins. Haidt berkesimpulan bahwa manusia adalah Homo Duplex, makhluk yang mencari keuntungan individu dan kelompok*. Tanda asterisk pada kelompok adalah karena ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Dalam metaforanya Haidt mengumpakan manusia sebagai 90% Simpanse dan 10% Lebah. Simpanse adalah perumpamaan keegoisan manusia untuk kepentingannya sendiri, sedangkan lebah adalah istilah kesetiaan tanpa syarat kepada kelompok. Dilihat dari persentase nya memang manusia 90% egois untuk kepentingannya sendiri, namun 10% kemauan untuk bekerja dalam kelompok telah mengantarkan manusia ke peradaban seperti saat ini. Disinilah ilustrasi cover bagian bawah muncul sebagai alat untuk menjelaskan, tarian maypole mewakili bentuk ritus kegiatan yang mempersatukan banyak orang, ritus agama lebih banyak berpengaruh sebelum era modern. Walaupun aku lebih menyukai jika ilustrasi diganti dengan suporter olahraga fanatik seperti yang penulis sampaikan untuk perumpamaan yang lebih modern.
Banyak pandangan baru yang muncul dari buku ini, salah satunya adalah kesadaran akan banyaknya kontradiksi terutama dalam sudut pandang liberal progresif. Pemikiran liberal mengenai dunia tanpa agama, aturan yang mengekang, dan kepemilikan tidak akan mewujudkan perdamaian dunia seperti pada lagu Imagine-nya John Lennon. Hal ini seperti perumpamaan Glaukon tentang cincin Gyges, orang yang diberi cincin yang membuatnya tak terlihat punya kecenderungan untuk jatuh pada kebejatan. Sekolah Inklusif justru menjadi sekolah eksklusif pada praktiknya karena menolak lebih banyak orang daripada sekolah yang eksklusif secara agama atau tingkatan sosial. Individualitas mendorong pada ketidakpedulian terhadap komunitas. Haidt mengajak para liberal lebih ke tengah dengan mengajak untuk lebih appeal terhadap matriks kesetiaan, kewenangan dan kesakralan untuk dapat mencapai tujuan bersama.
Meskipun Haidt memberikan panduan matriks moral untuk memahami perbedaan moral antar kelompok politik dan agama. Ia lebih banyak fokus pada isu clash politik dan agama di Amerika. Pandangan moral mereka pada semua spektrum moral masih cenderung homogen dibandingan dengan belahan bumi lainnya. Baik kaum progresif dan konservatif Amerika sepakat menjunjung tinggi pasar bebas, kebebasan perpendapat dan hak asasi manusia. Bahkan Haidt pun mengakui ia juga merasakan shock secara moral dan kultur saat ia berada di India, meskipun datang dengan pemahaman bahwa nilai moral setiap peradaban berbeda.
Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca khalayak umum untuk lebih memahami polarisasi yang semakin akut terutama setelah tibanya era digital, lebih aku rekomendasikan lagi bagi yang punya pemikiran dan agenda progresif. Supaya lebih paham cara menyampaikan isu-isu dan usulan perubahan secara lebih empati dan appeal ke orang/kelompok yang berseberangan. Haidt tidak meminta kaum progresif untuk meninggalkan agenda progresif ia meminta kaum progresif membuat jembatan agar bisa mencapai kesepakatan produktif dengan kaum konservatif. Mungkin Lebih tepatnya Haidt ingin berkonversi menjadi Utilitarian ala Durkeim.



