Rantau 1 Muara by Ahmad FuadiMy rating: 4 of 5 stars
Membaca karya Ahmad Fuadi selalu berhasil membangkitkan kembali semangat dan optimisme dalam diri.
Alif Fikri kali ini telah kembali ke tanah air setelah 1 tahun tinggal di Kanada. Namun ia kembali disaat badai krisis datang menghantam Indonesia. Pengalaman menulis untuk berbagai media, pertukaran pelajaran dan lulusan Universitas top tidak membuat perjalanan Alif Fikri mudah, krisis membuat masa depan dalam sekejap seperti kabut yang pekat. Mantra ketiga dalam buku Rantau 1 Muara adalah “Man saara ala darbi washala” -siapa yang berjalan di jalannya, akan sampai di tujuan. Mantra yang akan muncul berulang kali hingga terpatri di hati pembacanya.
Tokoh Randai sebagai sahabat dan juga rival Alif,meskipun hanya muncul sekelebat namun selalu berperan sebagai pembuat konflik di ketiga novel. Setelah lulus lebih dulu, kini Randai sudah diterima bekerja lebih dulu di IPTN dengan kesempatan bersekolah di luar negeri. Alif yang kompetitif akan berusaha menyamakan skor atau membuat skor lebih tinggi dibandingkan Randai.
Alif diterima bekerja di majalah derap, dimana ia bertemu banyak orang-orang hebat dibidang jurnalistik, mewawancarai tokoh penting, menjadi “doktor” hingga bertemu seseorang yang membuat hatinya tertambat. Petualangan Alif sebagai wartawan sangat menarik, karena majalah derap sendiri adalah mercusuar jurnalistik di Indonesia. Tokoh Mas Aji dan Malaka memperkenalkan jurnalistik yang idealistik.
Kita bukan majalah dengan jurnalisme kebanyakan. Karena kita fokus kepada seni menyampaikan yang sebenarnya. Tugas kita melacak, mencatat, dan menyebarluaskan informasi kepada masyarakat, selanjutnya aparat hukumlah yang kita harapkan bergerak. Dalam menghidangkan berita kepada masyarakat, kita tidak berharap puja-puji dan hinaan. Kita ingin mengabarkan berita yang sahih dengan cara sahih. Tapi kebenaran itu bisa ada di mana saja, bahkan di tempat yang mungkin kita tidak suka. Tugas kita mengantarkan ke benaran di mana pun dia berada kepada masyarakat.
Alif mendapatkan beasiswa Fulbright sehingga bisa sekolah di Amerika, negara yang selama ini menjadi impiannya. Dengan ini pula ia mencatatkan skor lebih tinggi ketimbang Randai. Potret keseharian di Amerika serta kehidupan migran Indonesia tergambarkan dengan baik. Peristiwa utama dan penting tentunya adalah peristiwa 11 September 2001, peristiwa yang merubah wajah Amerika dan Dunia setelahnya, dan tentunya Alif.
Melihat banyaknya kematian dalam waktu sekejap juga membuat cara berfikir Alif berubah.
“Jangan terlalu sedih dengan kematian. Jangan terlalu bahagia dengan kelahiran. Keduanya pintu wajib buat manusia. Manusia datang dan pergi. Melalui pintu lahir dan pintu ajal. Saat ajal tiba, sesungguhnya kita pulang ke asal. Dalam hidup ini kita pada hakikatnya adalah perantau. Suatu saat kita akan kembali pulang. Mungkin ini makna lain dari man saara ala darbi washala. Siapa yang berjalan di jalannya akan sampai di tujuan. Bukan hanya tujuan kebahagiaan dan keberhasilan dunia tapi juga tujuan hakiki. Ke tempat kita dulu berasal. Ke Sang Pencipta.”
Perjalanan Alif Fikri dewasa lebih berwarna dan kompleks. Kegalauan hidupnya mulai dari masalah pekerjaan, finansial, hingga pernikahan kurang lebih sama dengan kebanyakan orang-orang di umur duapuluhan lainnya. Kisah Alif Fikri adalah bentuk resiliensi dalam mengarungi lautan kehidupan terutama bagi yang berumur duapuluhan.
View all my reviews



