Banyak orang melihat keruntuhan masyarakat Pulau Paskah sebagai suatu metafora, suatu skenario paling buruk, atas apa yang mungkin menimpa kita di masa depan.
Isi Buku : Collapse – Runtuhnya Peradaban-peradaban Dunia
Pulau paskah adalah salah satu pulau paling terpencil yang dapat dihuni manusia di muka bumi. Daratan terdekat adalah pesisir Chile, 3.500 kilometer di sebelah timur, dan Kepulauan Pitcairn Polinesia, 2.000 kilometer di sebelah barat. Pulau ini dikenal akan patung batu raksasa yang tersebar di berbagai penjuru pulau dengan bobot mencapai puluhan ton per patungnya.
Perkakas batu yang dan peninggalan budaya lain yang digunakan oleh warga pulau paskah yang diteliti oleh arkeolog menunjukkan tidak adanya material kimiawi yang khas dari pulau atau daratan lain disekitarnya, ini membuktikan bahwa semua sumberdaya diperoleh hanya dari pulau tersebut dan kemungkinan tak ada kontak antara para penguhuni pulau dengan penghuni pulau lain selama lebih dari seribu tahun. Ini berarti bahwa teknologi dan budaya yang ada di pulau paskah berkembang secara mandiri. Sehingga pulau paskah adalah lokasi percobaan yang sempurna untuk membedah thesis Jared Diamond tentang keruntuhan masyarakat.
Peralatan ukir dan pahat yang penduduk Pulau Paskah miliki masih terlalu sederhana bila dibandingkan dengan peralatan ukir dan pahat Eropa, sehingga pendirian patung-patung tersebut pastilah termasuk dalam pekerjaan padat karya yang melibatkan banyak penduduk dan memerlukan surplus logistik berupa makanan yang besar pula. Ketika ditemukan pertama kali oleh penjelajah Eropa pada abad 17, diperkirakan hanya ada 10.000-15.000 penduduk yang mendiami pulau tersebut. Lalu kemudian merosot hingga titik terendahnya pada 1887 yaitu 111 Penduduk, hanya 36 yang memiliki keturunan, merekalah nenek moyang suku rapanui (penghuni asli pulau paskah) modern. Saat ini pulau Paskah dihuni sekitar 3000 Penduduk.
Survei botani terhadap tumbuhan yang hidup di Pulau Paskah pada abad ke-20 telah mengidentifikasi 48 spesies asli saja, dan yang terbesar di antara mereka (toromiro, yang tingginya mencapai dua meter) hampir tak bisa disebut pohon, sedangkan sisanya adalah pakupakuan rendah, rumput, semak, dan belukar. Dari penyelidikan serbuk sari purba yang tertinggal dan kondisi iklim pulau paskah dapat dideduksi bahwa selama ratusan ribu tahun sebelum manusia tiba dan di masa-masa awal permukiman manusia, Pulau Paskah sama sekali bukan tanah tandus melainkan hutan subtropis yang terdiri atas pepohonan tinggi dan sesemakan lebat, salah satu fosil palem raksasa yang dapat tumbuh dengan diameter mencapai 2 meter dan tinggi 20 meter juga ditemukan di situs arkeologi pulau paskah. Tampaknya penggundulan hutan dimulai tak lama setelah manusia tiba dan terus terjadi hingga tahun 1400. Maka ketika penjelajah Eropa tiba, pulau paskah sebenarnya telah mengalami kemunduran kira-kira 100 tahun lamanya.

Selama ratusan ribu tahun Palem Raksasa tumbuh dipulau ini. Semenjak kedatangan manusia, hanya tersisa flora setinggi 2 meter saja- yang sebenarnya tak cocok disebut pohon.
Efek penggundulan hutan yang terjadi membuat erosi meningkat sehingga tanah humus yang subur justru tersapu oleh limpasan air sehingga produktifitas lahan menurun. Iklim kepulauan sub-tropis juga menyebabkan kelembaban rendah, sebab tak ada naungan ataupun material yang dapat menahan penguapan air di permukaan. Berkurangnya pohon besar juga menyebabkan langkanya bahan material untuk membuat kano, sehingga ketika pertanian gagal, perikanan pun menjadi tak bisa diandalkan.
Apakah masyarakat pulau paskah tak menyadari kemunduran dan efek hilangnya hutan? mereka sepertinya sadar akan hal itu, namun upaya untuk memperbaiki kondisi tersebut nampaknya buntu. Laju pertumbuhan pohon di iklim sub tropis lebih lambat dibandingkan area tropis. Curah hujan area sub-tropis cenderung rendah dan terkadang membawa angin kering yang menyebabkan kelembapan tanah menurun drastis.
Bila beberapa ribu penduduk Pulau Paskah dengan hanya perkakas batu dan kekuatan otot mereka saja sudah cukup untuk menghancurkan lingkungan mereka dan karenanya menghancurkan pula masyarakat mereka, tidakkah miliaran orang dengan perkakas logam dan kekuatan mesin bisa menyebabkan kehancuran lebih parah?



