Penderitaan seorang pengungsi bukan sekadar soal kehilangan rumah, melainkan proses sistematis pelucutan martabat manusia hingga ke akar-akarnya. Dalam memoarnya, The Girl Who Smiled Beads, Clemantine Wamariya menggambarkan transisi menyakitkan ini: dari seseorang yang menjauh dari rumah, menjadi tak berumah, hingga akhirnya sampai pada titik paling nadir—menjadi sosok yang tidak diinginkan oleh siapa pun.
Bagi Clemantine dan kakaknya, Claire, menjadi pengungsi berarti eksistensi mereka tidak diakui secara hukum. Tanpa akta kelahiran atau paspor, negara-negara yang mereka singgahi tidak menganggap mereka sebagai manusia utuh. Mereka hanyalah angka, statistik, atau beban.
Rute pelarian Clemantine dan Claire menjadi sangat panjang—memakan waktu tujuh tahun dan melintasi tujuh negara di Afrika sebelum ke Amerika Serikat—karena kombinasi dari rentetan konflik yang terus mengejar mereka, penolakan sistemik terhadap pengungsi.
Sistem yang ada seolah merancang hidup pengungsi untuk selalu kalah dan gagal. Di kamp pengungsian, kehidupan tidak bergerak maju menuju masa depan yang lebih baik, melainkan terjebak dalam rutinitas bertahan hidup. Para pengungsi secara sistematis ditolak hak dasar kemanusiaannya oleh otoritas setempat: “Anda tidak bisa bersekolah. Anda tidak bisa memiliki pekerjaan. Status Anda bukan apa-apa di bawah hukum kami”. Mereka hidup berdesakan, merasa diperlakukan seperti ternak yang dijaga ketat oleh aparat, dan harus terus hidup dalam ketakutan akan razia polisi imigrasi yang memburu mereka. Di saat yang sama, mereka harus bertarung nyawa melawan penyakit mematikan seperti disentri, kelaparan, dan bagi para perempuan, ancaman kekerasan seksual.
Realitas kelam yang dirasakan oleh Clemantine dan jutaan pengungsi Afrika lainnya tersebut adalah cerminan dari pola penderitaan universal yang menjelaskan mengapa situasi pengungsi lainnya seperti Rohingya dan Palestina menjadi sama sulitnya dan penuh tekanan.
Berikut adalah alasan-alasan utama mengapa perjalanan mereka menjadi begitu panjang dan tak berkesudahan:
- Status Pengungsi yang Ditolak di Mana-mana: Menjadi pengungsi berarti kehilangan akar dan tidak diinginkan oleh siapa pun. Clemantine menggambarkan kenyataan pahit ini dengan mengatakan bahwa tempat yang seharusnya menginginkan mereka telah mengusir mereka, dan tidak ada tempat lain yang mau menerima mereka secara utuh. Mereka harus terus bergerak karena pada dasarnya mereka berstatus ilegal dan tidak memiliki kewarganegaraan.
- Perang yang Terus Menyebar (Efek Domino Konflik): Mereka tidak hanya melarikan diri dari Genosida Rwanda, tetapi perang seolah terus membuntuti ke mana pun mereka pergi. Sebagai contoh, ketika mereka sempat merasakan kehidupan yang damai dan stabil bersama keluarga suami Claire (Rob) di Zaire (sekarang Republik Demokratik Kongo), perang kembali pecah di sana. Kelaparan melanda, jam malam diberlakukan, dan bom mulai berjatuhan, memaksa mereka untuk kembali melarikan diri menyeberangi Danau Tanganyika yang berbahaya dengan perahu kecil.
- Kondisi Kamp Pengungsian yang Tidak Manusiawi: Kamp pengungsian tidak pernah menjadi tempat berlindung yang aman. Tempat-tempat itu dipenuhi oleh keputusasaan, kelaparan, dan wabah penyakit mematikan seperti disentri yang merenggut banyak nyawa anak-anak. Selain itu, ancaman predator seksual sangat tinggi, di mana tempat-tempat seperti pancuran air mandi menjadi area berburu favorit bagi pria-pria hidung belang. Kondisi yang nyaris mustahil untuk bertahan hidup ini memaksa mereka untuk terus mencari jalan keluar.
- Kejaran Polisi Imigrasi: Di beberapa negara yang mereka singgahi, mereka terus diburu oleh otoritas setempat. Di Kigoma (Tanzania) maupun di Zambia, polisi imigrasi secara rutin mengetuk pintu demi pintu untuk merazia pengungsi tanpa dokumen resmi. Jika tertangkap, mereka bisa dijebloskan ke penjara atau dikembalikan secara paksa ke kamp pengungsian, seperti yang sempat dialami oleh Rob di Zambia.
Satu hal yang paling mengerikan dari menjadi pengungsi bukanlah sekadar penderitaan fisik, melainkan bagaimana sistem tersebut bisa mematikan asa. Banyak pengungsi yang akhirnya terjebak dan “menetap” di kamp pengungsian selama puluhan tahun karena mereka termakan oleh ilusi keselamatan. Ketika baru tiba, banyak yang menipu diri sendiri dengan meyakini bahwa kamp tersebut adalah sekadar tempat singgah yang aman sebelum mereka akhirnya bisa pulang ke rumah. Clemantine menyadari bahwa pikiran manusia terbukti sangat luar biasa dalam menipu diri sendiri demi bisa bertahan hidup. Claire bertemu dengan seorang perempuan yang ternyata telah tinggal di sana selama 20 tahun lamanya. Bagi Clemantine, satuan waktu dua puluh tahun hidup di tempat yang serba merendahkan martabat itu sama sekali tidak masuk akal. Perjumpaan inilah yang semakin mempertegas ketangguhan Claire. Melihat orang-orang yang pasrah pada nasib, Claire bersikeras menolak untuk merasa nyaman di kamp. Ia memiliki prinsip daripada berlama-lama menetap di sebuah kamp pengungsian—bahkan di kamp yang kondisinya dianggap “bagus” sekalipun, jauh lebih berbahaya daripada sebuah kamp yang buruk. Hal ini karena kenyamanan semu itu bisa membuat seseorang berhenti berjuang. Karena itulah Claire selalu gelisah, menolak untuk tunduk pada rutinitas kamp, dan terus memutar otak mencari celah untuk benar-benar keluar dari sistem yang merusak tersebut.



