Numbers Don’t Lie: 71 Things You Need to Know About the World by Vaclav SmilMy rating: 4 of 5 stars
Di google play books beberapa buku Vaclav Smil sudah masuk ke Wishlist ku sejak 2019. Buku seperti Growth: From Microorganisms to Megacities, Energy and Civilization: A History, Should We Eat Meat?: Evolution and Consequences of Modern Carnivory dan Harvesting the Biosphere: What We Have Taken from Nature sudah lama ingin kubeli. Hanya saja meskipun harganya sudah dicoret (yang artinya diskon) harganya masih terlalu mahal. Alternatif andalanku Gramedia Digital juga belum menerjemahkan karya-karya Vaclav Smil.
Pada di akhir 2020, muncul rekomendasi buku ini. Kulihat dari preview buku ini terdiri dari berbagai tulisan vaclav smil, ada yang baru ada pula yang cuma disarikan dari buku atau tulisannya yang sudah pernah di publish. Temanya sendiri beraneka ragam. aku anggap buku ini steal deal, berbagai karya Smil bisa kubaca dalam satu buku saja, ditambah harga buku ini yang lumayan terjangkau dibandingkan buku2 karya Smil yang lain.
Membaca buku ini seperti praktik interpretasi dari How to Lie with Statistics dengan data yang lebih banyak dan luas. Smil menyajikan berbagai angka-angka, rasio dan perbandingan. Agak pusing juga melihatnya apalagi jika temanya tidak familiar. Smil mencoba untuk melakukan analisis angka-angka ini dari berbagai skala dan mencoba untuk menginterpretasinya dari sudut pandang alternatif. Seperti ketika ia membahas tingkat kebahagian di berbagai negara, negara dengan selisih ranking yang sangat jauh tentu jelas perbedaannya, namun ia tidak melihat perbedaan yang jelas dan signifikan ketika mengajar di Denmark dan Finlandia negara dengan tingkat kebahagiannya yang berselisih 2,2%. Ia mengkritisi lembaga2 pemerintah ataupun donor yang teralu fokus pada angka-angka ini. Menganggap bahwa kenaikan beberapa poin pada tingkat kebahagian adalah hasil kerja yang dapat dibanggakan. Aku jadi teringat bahwa di negara kita juga kadang menggunakan kenaikan dan penurunan angka-angka seolah-olah itu hal yang signifikan, padahal jika dipikir-pikir tidak ada perbedaan yang berarti pada beberapa poin itu. Bisa jadi kenaikan dan penurunannya masih dalam level standar deviasi yang memungkinkan.
Ia juga memberikan kritik terhadap GDP sebagai tolak ukur kemajuan suatu negara, bahkan disaat yang terburuk GDP bisa naik. Misal dengan adanya pandemi, kebutuhan kesehatan meningkat, GDP bisa naik, atau ketika ada bencana seperti gempa atau tornado yang meluluh lantakkan bangunan maka kebutuhan akan bangunan juga naik, yang akhirnya berpengaruh pada GDP juga. Premis-premis seperti ini banyak dimunculkan Smil dibuku ini, penggunaan angka-angka yang tidak seharusnya serta alternatif bagaimana seharusnya sesuatu diukur.
Tema yang menurutku menarik adalah tema tentang makanan, mungkin karena aku sendiri familiar dengan tema ini. Smil membeberkan fakta bahwa, meskipun berbagai pemerintahan dan lembaga mendorong peningkatan produksi pangan agar dapat mengikuti laju pertumbuhan penduduk, kenyataannya sepertiga produksi pangan kita setiap tahun hanya berakhir menjadi sampah saja. Ini disebabkan oleh rusaknya makanan saat penyimpanan dan transport terutama di negara miskin atau karena konsumen yang terlalu pemilih yang didominasi di negara kaya. ketidakpahaman perbedaan antara best before dan expired date terutama di negara maju membuat sampah makanan makin tambah banyak. Namun yang tidak dibahas oleh penulis adalah meskipun sepertiga produksi makanan itu hilang, semuanya terbayar, hilang atau rusaknya makanan menjadi bagian dari resiko, sepanjang resikonya terbayar dari harga jual maka tak pernah ada yang protes. Meskipun ini berarti konsumen sebenarnya membayar lebih daripada yang seharusnya ia keluarkan. Maka secara ekonomi peningkatan produksi pangan selalu masuk akal. Hanya saja yang diutarakan Smil tentang rusaknya alam dan tanah akibat penggunaan bahan kimia untuk produksi pangan memang benar.
Dibuku ini Smil juga menjelaskan hewan yang paling menderita demi kelangsungan hidup manusia, yaitu ayam boiler. Menarik karena aku sendiri tidak pernah menyadari penderitaan yang dialami ayam itu. Seperti yang dikatakan Smil, sebagian manusia modern tidak banyak terlibat dalam rantai produksi makanan selain sebagai konsumen akhir saja.
Menariknya adalah meskipun Smil tidak merasakan perbedaan signifikan di negara dengan tingkat kebahagiaan yang berselisih 2,2%. pada Bab akhir ia merasa perlu mengganti penghangat rumahnya yang sebelumnya punya tingkat efisiensi 94% ke penghangat yang memiliki tingkat efisiensi 97%. Agak kontradiktif aja sih.hehehe.
Buku ini sangat menarik, banyak angka-angka namun yang paling penting adalah bagaimana interpretasi dan sikap yang perlu diambil dalam menanggapi angka-angka tersebut. Kesemuanya disampaikan dengan baik, setidaknya penjelasan Smil dibuku ini dapat memberikan perspektif baru, meskipun ada beberapa hal yang ia sampaikan aku tidak setuju, sebagian kecilnya aku bahkan tidak terlalu peduli, namun banyak hal yang menjadi concern dari Smil yang aku sangat setuju.
View all my reviews at Goodreads



