Man’s Search For Meaning by Viktor E. FranklMy rating: 4 of 5 stars
Kami tahu bahwa kami tidak bisa kehilangan apa-apa lagi kecuali hidup kami yang benar-benar telanjang.
Sedikit tidak menyangka bahwa buku ini ternyata merupakan sebuah pengantar mengenai Logoterapi, salah satu bentuk psikoterapi, yang setelah aku telusuri via wikipedia ternyata ada banyak sekali jenisnya. https://en.wikipedia.org/wiki/List_of….
Aku sendiri sempat mengira bahwa buku ini akan berisi deksripsi kekejaman yang lengkap atas pengalamannya berada di kamp konsentrasi saat perang dunia. Ekspektasiku isinya mirip dengan Gulag. Benar, bagian awal buku ini membahas mengenai pengalaman itu, tapi menariknya Viktor Frankl tidak hanya mendeskripsikannya saja, ia juga menelaah bagaimana dan mengapa peristiwa-peristiwa atau pengalaman-pengalaman tersebut bisa terjadi dari sudut pandang Psikiatri dan Logoterapi.
Ia menceritakan kondisi para tahanan pada awal-awal masuk kamp dalam kondisi syok. Lalu setelah beberapa waktu berlalu:
“Orang-orang yang menderita, baik yang setengah mati atau sudah mati, sudah menjadi hal yang lazim baginya setelah dia berada dua minggu di kamp konsentrasi, sehingga keadaan mereka tidak lagi bisa menyentuh perasaannya. “
alih-alih menghakimi bahwa para tahanan telah kehilangan kemanusiaannya, ia memberikan analisanya sebagai berikut:
Apati, menumpulnya berbagai emosi yang membuat seseorang tidak memedulikan apa pun, merupakan mekanisme pertahanan diri yang dibutuhkan. Melalui ketidakpekaan tersebut para tawanan membungkus dirinya dengan kerangka perlindungan yang sangat diperlukan.
Ia pun mengamati bahwa ada paradoks dalam kamp konsentrasi, yaitu orang-orang yang bertahan bukanlah orang-orang yang masuk dalam kategori orang yang memiliki fisik yang prima.
“Orang-orang yang peka, yang terbiasa menjalani kehidupan intelektual yang kaya, mungkin saja sangat menderita (tubuh mereka pun biasanya rentan), tetapi kerusakan batin mereka lebih kecil. Mereka mampu mengasingkan diri dari kehidupan di seputar mereka yang sulit, ke dalam kehidupan batin yang kaya dan kehidupan spiritual yang bebas. Hanya ini yang bisa menjelaskan paradoks yang terlihat nyata, mengapa orang-orang yang tubuhnya rentan mampu mengatasi kehidupan kamp secara lebih baik dibandingkan mereka yang bertubuh lebih kuat.”
Disisi lain pengalaman Viktor Frankl sebagai penyintas kamp konsentrasi memberikan perspektif yang benar-benar diluar dugaan saat ia mencoba menjelaskan foto para tahanan yang dikira mengenaskan oleh orang yang melihat, sebagai hal yang justru kebalikannya. Perspektif ini memang hanya bisa didapat oleh orang yang mengalaminya saja.
Pengalaman-pengalaman yang diceritakan penulis setelah Kamp Konsentrasi juga tetap menarik dan memberikan perspektif yang baru. Ada satu istilah baru yang aku sukai dari buku ini yaitu kehampaan eksistensial. Istilah ini dapat memberikan pemisah yang jelas antara krisis eksistensial dengan ketiadaan makna hidup.
Penjelasan dan Kisah yang diangkat cukup menarik, akupun jadi tahu adanya logoterapi, hanya saja aku masih punya skeptisisme yang besar pada segala bentuk psikoterapi, sebab banyak yang masuk kategori pseudo-sains, belum lagi penemuan-penemuan baru dibidang neurosains yang mulai mendebunked banyak hal di ranah psikiatri klasik.
View all my reviews



