
Love in the Time of Cholera – Cinta di Tengah Wabah Kolera by Gabriel García Márquez
My rating: 4 of 5 stars
Buku ini merupakan buku kedua Gabo yang aku baca. Setelah membaca One Hundred Years of Solitude – Seratus Tahun Kesunyian. Ada ekspektasi yang lebih saat memulai membaca buku ini, berharap banyak absurditas khas realisme magis seperti yang ada di buku pertama. Namun buku ini menyajikan hal yang berbeda. Sebuah kisah cinta dua insan yang tak lagi muda. Menarik memang, karena kisah cinta biasanya hanya berkutat pada kisah pencarian atau kisah kilas balik masa muda sambil mengenang yang telah tiada.

Bab awal buku ini dibuka dengan kematian Jeremiah de Saint-Amour dan kemunculan karakter Dr. Juvenal Urbino. Sama seperti saat membaca One Hundred Years of Solitude – Seratus Tahun Kesunyian, ada beberapa nama yang sama atau mirip karena hubungan keluarga, walaupun tidak sekompleks nama-nama Buendia di buku Seratus Tahun Kesunyian. Karakter dr. Urbino ini digambarkan dengan sangat detil, karakternya juga lumayan menarik, semua kritik dan selentingan serta ejekan-ejekan yang sebenarnya punya kedalaman tersendiri muncul dari karakter ini. Meskipun begitu, setelah beberapa puluh halaman, aku baru menyadari bahwa aku sedang membaca kisah orang yang akan segera mati. Sebab kematian dr. Urbino pembuka babak yang dituliskan dalam sinopsis di cover belakang. Bab selanjutnya mengenalkan karakter Florentino Ariza dan Fermina Daza. Cukup panjang juga pengenalan karakternya, namun tidak terlalu membosankan karena karakter-karakter sampingan juga memiliki kisah dan kepribadian yang menarik.
Walaupun ini merupakan kisah cinta Florentino Ariza dan Fermina Daza. Tapi interaksi mereka sepanjang waktu lima puluh satu tahun sembilan bulan dan empat hari sangatlah terbatas. Florentino memiliki petualangannya sendiri dengan perempuan-perempuan yang ia temui sambil tetap mengingat Fermina. Fermina memiliki dinamika kehidupan yang berlainan dan lebih banyak berkutat pada masalah rumah tangganya. Menurutku kisah ini adalah kisah pasangan yang mengalami dua kali jatuh cinta cinta saat muda dan cinta saat tua. Hanya kebetulan saja pelakunya sama dan terlihat seperti kisah budak cinta dari sinopsisnya.
Yang paling menarik adalah kisah pelayaran sungai yang dikisahkan diawal saat florentino mencoba mengasingkan diri, kemudian ia melakukan perjalanan yang sama setelah lima puluh tahun, yang muncul adalah gambaran kerusakan lingkungan yang terjadi. Orang mungkin mudah jatuh cinta pada lingkungan hutan yang masih asri dan tertutup, ada rasa takut dan angker dari hutan dan satwa, ada keliaran yang coba ditaklukkan. Namun ketika lingkungan rusak masih adakah rasa cinta yang tersisa? Kisah ini hampir seperti kisah cinta Florentino dan Fermina.
Hal yang kurang aku sukai dari buku ini adalah, penulis sering memberi tahu nasib akhir si tokoh sebelum kisah karakter tersebut dimulai. Jadi agak malas melanjutkan baca dan pengen skip atau skimming aja sih, karena tahu karakter ini tidak akan punya peran penting. Buku ini lumayan tebal dan butuh energi untuk menamatkannya, namun jika kamu sudah pernah membaca gabo atau sedang mencoba untuk membaca gabo, buku ini bisa menjadi salah satu bacaan.



