
Buku ini sangat mirip dengan The Prince. Penulis mengajarkan cara mendapatkan dan mengelola kekuasaan secara pragmatis. Bila sekedar membaca point-point 48 aturan yang ada maka kita akan tergiur untuk mempertanyakan intensi dari si Penulis, benarkah untuk mendapatkan kuasa harus meninggalkan nilai-nilai moral yang luhur?. Apabila Niccolo Machiavelli lebih banyak memberi contoh pragmatis pada masa hidupnya saja, Robert Greene memberi contoh lebih banyak dan luas mulai dari Kisah Persia, Mitologi Yunani, Periode Klasik, Mesir Kuno, Renaisans Eropa, Timur Klasik dan Modern.
Tak dijelaskan mengapa terpilih sejumlah 48 aturan, tapi penulis dalam prakatanya mengatakan bahwa kesemuanya merupakan distilasi dari kebijaksanaan tokoh-tokoh besar berbagai zaman. Beberapa aturan yang menarik perhatianku adalah:
1. Law 1: Never outshine the master
2. Law 4: Always say less than necessary
3. Law 7: Get other to do the work for you, but always take the credit
4. Law 16: Use absence to increase respect and honor
5. Law 30: Make your accomplishments seem effortless
6. Law 38: Think as you like but behave like others
7. Law 45: Preach for the need of change, but never reform too much at once
Ketujuh aturan itu menarik sebab secara moral dan etik kita selalu diajari untuk melakukan sebaliknya.
Struktur setiap aturan dijelaskan dengan urutan sebagai berikut: a. Law-Judgement; b. Transgression of the law – Interpretation; c. Observance of the law – interpretation; d. Keys to power; e. Reversal. Format seperti ini memudahkan dan cukup baik dalam menjelaskan setiap point.
Tentu saja buku ini memiliki kelemahannya tersendiri. Kuasa yang ada di jelaskan dalam buku ini adalah bentuk kuasa tingkat tinggi. Subjek dan Objek nya adalah para Raja, Jenderal, Menteri, dan sejenisnya dimana tingkat pertaruhannya memang besar. Tujuan akhirnya pun selalu pada dominasi atas pihak lainnya. Dinamika kelompok kecil tidak terlalu terlihat dalam buku ini, apalagi kelompok dengan kesadaran akan kesetaraan dan keadilan seperti masyarakat demokratis. Mayoritas contoh yang diangkat adalah era dimana penguasa punya kekuasaan absolut, Transgression of the law selalu berakhir dengan kekalahan telak, entah itu kehilangan kekuasaan atau kekayaan selamanya atau bahkan kematian yang tragis. Bagaimana memberikan kekalahan telak kepada penguasa dalam iklim demokrasi tidak terlalu jelas ujungnya.
Hanya saja seperti hal nya buku Machiavelli yang sering disalahartikan sebagai sebuah pedoman menjadi seorang tiran. Buku ini dan buku Machiavelli sebenarnya mengajarkan kepada kita bahwa sebagai subjek politik dan kekuasaan agar kita tidak dibodohi dengan trik yang ada di buku ini.
Saat ini (2023-2024), Indonesia memasuki tahun politik, tidak menutup kemungkinan para kandidat penguasa juga menggunakan trik yang sama untuk memanipulasi kita sebagai pemilih agar mereka dapat merengkuh kekuasaan. Dengan mengenali trik yang ada setidaknya kita tak lagi buta dan emosional terhadap dinamika politik yang berjalan.



