Kepunahan Keenam: Sebuah Sejarah Tak Alami by Elizabeth KolbertMy rating: 4 of 5 stars
Bumi pernah mengalami setidaknya lima peristiwa kepunahan besar yang menyapu hampir seluruh makhluk yang ada di bumi. Penyebabnya berbagai macam: Erupsi gunung api, Kenaikan suhu permukaan air laut, pendinginan global, hingga tabrakan asteriod. Buku ini memberikan penjelasan tentang kemungkinan bahwa kepunahan massal keenam sedang dalam proses- dan penyebabnya adalah aktivitas manusia.
Penulis membuka bab awal dengan menceritakan misteri hilangnya spesies katak emas panama dari lingkungan dimana dulu spesies ini mudah ditemukan beberapa tahun sebelumnya. Dalam beberapa tahun spesies katak emas panama masuk sebagai spesies yang terancam punah. Ini adalah jembatan untuk menjelaskan arti kepunahan, konsep yang masih sangat muda dan penuh misteri. Untuk memahaminya kolbert kemudian memperkenalkan berbagai konsep geologi dan evolusi. Untungnya ini disampaikan dengan mengalir dan tidak membosankan.
Secara konsep, banyak hal yang terkait dengan geologi dan sebagian biogeografi di buku ini yang sudah tidak asing bagiku, kebanyakan sudah kudapat saat kuliah. Sehingga aku cukup mudah mengikutinya. Namun bagi pembaca awam yang ingin melakukan cross check referensi kemungkinan lebih sulit karena pencarian referensi dari kata padanan bahasa indonesia kadang minim. Namun secara keseluruhan konsep-konsepnya tetap mudah untuk diikuti pembaca awam. Membaca kembali konsep yang dulu pernah diperoleh saat kuliah dari buku ini memberiku pengayaan terhadap beberapa konsep terkait dengan kehancuran dan pembentukan ulang bentang alam dan ekosistem. Aku dulu tak terlalu memperhatikan kecepatan laju kepunahan di setiap masa. Sebab rentang waktunya jutaan dan ratusan ribu tahun. Namun perumpamaan penulis mengenai efek konsumsi satu botol alkohol selama satu bulan dibandingkan konsumsi satu botol alkohol dalam satu malam serta sebesar apa skala pelepasan karbon oleh manusia modern membuatku lebih memahami bahwa laju kerusakan yang diakibatkan aktivitas manusia benar-benar berada di luar skala kerusakan akibat peristiwa yang pernah terjadi.
Aspek lain yang penting yang membuat buku ini layak dibaca adalah penulis berhasil merebut empati. Peristiwa hilangnya species endemik karena invasi spesies luar, punahnya alka karena perburuan, serta mirisnya nasib hewan-hewan yang kini hanya bisa hidup di kebun binatang atau suaka dengan pengamanan dan intervensi manusia karena tidak mungkin bertahan di alam benar-benar membuatku frustasi dan marah kepada kelakuan manusia. Kuharap hal ini juga dapat menimbulkan kesadaran bagi pembaca lain.
Hal yang membuat pesimis adalah dalam mempelajari dan memahami peristiwa dan kehidupan masa lalu konsep geologi “present is the key to the past” dapat digunakan untuk melakukan deduksi dan analisis, konsep ini dapat berlaku pula untuk evolusi, namun dengan kehadiran manusia kesuksesan evolusi secara paradoks tidak berlaku untuk keberlangsungan makhluk hidup ke depan (terutama dalam kasus megafauna), kesuksesan di masa lalu tidak menjamin keberlangsungan di masa depan.
View all my reviews



