Gen: Perjalanan Menuju Pusat Kehidupan by Siddhartha MukherjeeMy rating: 5 of 5 stars
Buku ini agak mengintimidasi, jumlah halamannya 700-an, mengangkat tema yang bagi sebagian orang akan dianggap sulit untuk dicerna yaitu tentang Genetika. Aku masih ingat kesan pertamaku ketika membaca The Selfish Gene, pusing dan mules. Kali ini kuberanikan membaca buku ini, sebab sang penulis pernah diganjar hadiah Pulitzer untuk kategori Non-Fiksi di tahun untuk karyanya Kanker: Biografi Suatu Penyakit. Aku lebih memilih buku ini ketimbang buku yang memenangkan Pulitzer karena tema buku ini menurutku lebih luas serta adanya prediksi berbagai pengamat bahwa disrupsi besar selanjutnya adalah fusi antara biologi, kimia, dan teknologi.
Siddartha Mukherjee menyajikan pembahasan yang komprehensif tentang Genetika, dimulai dari sejarahnya di masa lalu, perkembangannya di masa kini, serta prediksi seperti apa masa depan manusia dengan Genetika. Buku ini dibuka dengan kisah tentang keluarga dari ayah Siddartha Mukherjee, dimana terdapat anggota keluarga mengalami gangguan mental, bukan hanya satu namun tiga, dua saudara kandung dan satu kemenakan. Ada banyak potongan puzzle yang kemudian memunculkan banyak pertanyaan, mengapa tidak semua anggota keluarganya memiliki penyakit tersebut ? kenapa sang sepupu bisa memiliki penyakit tersebut padahal sang ayah tidak terserang ? Kenapa anggota yang memiliki gangguan mental terserang pada rentang umur yang berbeda? Apakah dirinya dan anak-anaknya suatu saat nanti akan memiliki penyakit itu ? dan banyak pertanyaan lainnya. Kisah ini adalah pengantar bahwa pewarisan sifat kelestarian tak hanya menurunkan ciri fisik semata, namun juga penyakit, serta berbagai misteri yang menyertainya. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul itulah yang kemudian dijabarkan dalam isi buku ini. Setiap bab buku ini
Bab awal buku ini membahas dua tokoh penting dalam perkembangan awal Genetika sebagai ilmu, tokoh pertama adalah Charles Darwin yang teori evolusinya merombak ilmu biologi secara keseluruhan. Hanya ada satu hal saja yang mengganjal kesempurnaan teori evolusi Darwin, yaitu ia belum menemukan bagaimana mekanisme pewarisan sifat bekerja. Tokoh kedua adalah Gregor Mendel, tokoh sains penting yang tidak pernah tahu bahwa penemuannya menjadi salah satu konsep dasar ilmu genetika. Penelitian Mendel di presentasikan dalam pertemuan yang terlupakan, di publikasikan pada jurnal yang tak terkenal, dan terselip diantara banyak tumpukan dokumen yg jarang dibaca. Lama setelah Mendel pergi, barulah ada yang menemukannya kembali dan memperkenalkan gagasan mendel ke saintis lainnya. Agak sedih sih ketika membaca kisah Mendel ini, apalagi ketika orang-orang disekitarnya hanya mengenang Mendel sebagai “orang yang mencintai bunga-bunga”.
Dimasa awal Genetika, saintis masih sedikit sekali memahami bagaimana pewarisan sifat bekerja. Mereka baru tahu bahwa pembawa sifat ada di dalam kromosom. Pengetahuan yang terbatas itu tak membuat beberapa orang yang ambisius berusaha untuk mengaplikasikan seleksi alam, survival of the fittest, dan pewarisan sifat ke dalam masyarakat. Francis Galton, sepupu Darwin yang terinsipirasi sekaligus tak ingin pudar dalam bayang-bayang Darwin menjadi tokoh pseudo-sains dengan melakukan pengumpulan data mengenai ciri fisik dan mental manusia layaknya darwin mengamati paruh burung finch. Visi akan munculnya manusia sempurna seperti hybrid kacang ercis mendel membuat Eugenika malah mendapatkan traksi di Eropa dan Amerika, orang-orang yang dianggap imbesil boleh dikebiri, batasan imbesil pun sangat bercampur baur dan subjektif, semua kategori orang yang tidak produktif atau biang masalah bisa masuk kategori imbesil. Eugenika makin parah sebab digunakan oleh para politisi untuk kepentingannya. Nazi Jerman melakukan tak hanya melakukan Eugenika malahan melakukan Genosida.
Naik turunnya perkembangan genetika menjadi inti narasi dalam buku ini. Sidharta Mukherjee menyajikannya dengan sangat baik. Perjalanan Genetika setelah perang dunia sangat menarik, sebab sebagian besar tak kudapat saat pelajaran biologi dimasa sekolah. Efek penemuan DNA yang kemudian berujung pada perlombaan untuk memetakan sekuens gen yang memiliki pengaruh terhadap ciri fisik hingga penyakit-penyakit tertentu hingga persaingan peneliti untuk memetakan genom manusia secara utuh. Hal yang mencirikan bab kedua dan selanjutnya adalah para saintis yang semakin mendrobak batasan-batasan terluar yang dulunya mustahil. Ketika berbagai pewarisan sifat bisa dideteksi dan diintervensi hal ini memunculkan problem yang kompleks, terutama problem etik. Tak ada seorang pun yang tahu sampai mana batasan ini dapat didorong, serta tak ada yang tahu efeknya secara jangka panjang.
Ini adalah salah satu buku sains populer terbaik yang pernah aku baca. Ada banyak kesulitan terutama ketika masuk bahasan teknis yang kompleks apalagi setelah era perang dunia kedua, tapi narasinya disajikan secara baik dan tidak membosankan.
View all my reviews at Goodreads



