“Factfulness” adalah sebuah karya yang ditulis oleh Hans Rosling bersama dengan dua dari anaknya, Ola dan Anna. Hans Rosling lahir dan besar di Swedia memulai karirnya sebagai dokter, Ia menghabiskan beberapa tahun sebagai Dokter di Mozambik, lalu mengambil spesialisasi epidemiologi dan Kesehatan Masyarakat. Pengabdian sebagai dokter di Mozambik memiliki dampak yang mendalam terhadap arah karirnya, cara berpikirnya, dan dedikasinya untuk pendidikan berbasis data.
Sword Swallowing
Factfulness dibuka dengan sebuah intro mengenai atraksi menelan pedang. Dalam pertunjukan sirkus maupun sulap, menelan pedang merupakan sesuatu yang terlihat mustahil dan menyeramkan. Dalam konteks ini, aksi “sword swallowing” bisa dilihat sebagai metafora untuk kemampuan mengatasi dan “menelan” informasi atau situasi yang pada awalnya tampak mustahil atau menyesatkan dengan cara yang metodis dan berbasis fakta. Sering kali, kenyataan tidak sesederhana atau seseram yang dipikirkan, dan dengan pendekatan yang tepat, kita bisa “menelan” tantangan besar dengan lebih mudah daripada yang kita bayangkan. Melalui pendekatan “factfulness”, pembaca diajak untuk mengenali dan mengatasi prasangka serta insting yang bisa mengaburkan pandangan kita terhadap kenyataan, membuka jalan bagi pemahaman yang lebih mendalam dan berbasis fakta.
Pre-test
Diawal buku ini sebelum masuk ke bab yang mendalam, pembaca diuji dengan 13 pertanyaan sebagai basis “worldview” yang dimiliki pembaca sebelum menyelam lebih dalam. Tes ini dirancang untuk mengevaluasi pemahaman yang tepat tentang isu-isu global, seperti jumlah ekstremisme, kematian bayi, harapan hidup rata-rata, dan kesenjangan pendapatan. Kuis ini juga bisa diakses melalui situs gapminder. Skor yang saya dapatkan tentu saja buruk. Pandangan mengenai kondisi dunia ternyata berbeda dengan kenyataan. On the bright side, ternyata saya tidak sendirian. Mayoritas responden yang diuji dengan pertanyaan tersebut juga mendapatkan nilai yang cenderung rendah—temuan ini berlaku secara merata pada berbagai kategori responden, mulai dari umur, gender, asal negara, hingga tingkat Pendidikan. Penulis menyimpulkan bahwa ada sebuah kesalahpahaman yang sistematis, sebuah ilusi yang dialami secara global.

Rosling menjelaskan dalam kelompok kecil pemburu dan pengumpul, otak kita seringkali langsung melompat ke kesimpulan tanpa banyak berpikir, hal ini dahulu membantu kita untuk menghindari bahaya (hewan buas dan musuh). Kita tertarik pada gosip dan cerita dramatis, yang dahulu menjadi satu-satunya sumber berita dan informasi yang berguna. Kita sangat mendambakan gula dan lemak, yang dahulu merupakan sumber energi penyelamat hidup ketika makanan langka. Kita memiliki banyak insting yang dulu berguna ribuan tahun lalu, namun kita hidup di dunia yang sangat berbeda sekarang.
Seberapa pintar diri kita dan meskipun sudah mengetahui bahwa ada sebuah penjelasan mengenai ilusi optik. Diri kita selalu tertipu/tidak dapat menafsirkan yang benar. Ilusi tidak terjadi di mata kita, ilusi terjadi di otak kita. kesalahan interpretasi yang sistematis, tidak terkait dengan masalah penglihatan individu. Mengetahui bahwa kebanyakan orang tertipu artinya memang kita tak perlu malu.
10 Insting
Penulis kemudian mengidentifikasi sepuluh insting yang salah yang mempengaruhi pandangan manusia tentang dunia. Insting-insting tersebut adalah:
- Insting Gap: Membagi dunia menjadi dua kubu, misalnya Negara Maju dan Negara Miskin dan menganggap kebanyakan berada di salah satu atau kedua kutub ekstrim serta mengabaikan fakta bahwa keadaan berjalan secara dinamis dan berkembang ke arah yang lebih baik. China dan India di tahun 1980an adalah negara miskin, namun dalam 50 tahun terakhir keduanya berkembang secara pesat. Berdasarkan data bank dunia pada 2022 hanya ada 8% negara yang masuk kategori miskin, bandingkan dengan tahun 1990 dimana ada 58% negara yang masuk kategori miskin. Untuk mengatasinya, penulis menganjurkan untuk mencari mayoritas yang berada di tengah.
- Insting Negatif: Cenderung memandang negatif dan mengabaikan kemajuan yang telah terjadi di dunia. Hal ini ditambah dengan kecepatan informasi. Berita kini terus membombardir kita dengan informasi yang mayoritas merupakan berita negatif. Kebebasan Pers yang kemudian muncul akibat demokratisasi juga membuat berita yang dulunya kena sensor kini bebas diberitakan. Hal ini mempengaruhi persepsi kita untuk berfikir bahwa dunia berjalan ke arah yang buruk. Untuk mengatasinya, maka sebaiknya kita selalu siap apabila diberikan informasi/berita buruk, karena biasanya itulah yang dilaporkan. Progress apalagi dengan kenaikan yang kecil namun berlangsung dalam waktu lama biasanya tak pernah dilaporkan.
- Insting Linear: Menganggap perkembangan berlangsung secara linier, padahal fluktuasi dan perubahan kompleks sering terjadi. Sesuatu yang terus tumbuh pasti akan mencapai batasannya. Pertumbuhan fisik seorang anak akan tumbuh pesat hingga umur remaja kemudian melandai dan stabil. Saham yang terus menerus naik akan turun ketika nilainya sudah dianggap kemahalan oleh investor. Jangan berasumsi bahwa semua hal bergerak dalam garis lurus.
- Insting ketakutan: Ini merupakan efek dari Insting Negatif yang membuat kita bereaksi secara berlebihan. Insting ini dulunya membantu kita untuk menghindari predator, ada sedikit pergerakan diantara semak-semak maka insting ketakutan akan aktif dan kita akan langsung berlari. Mungkin saja yang ada dibalik semak bukanlah hewan buas, namun reaksi berlebihan ini membantu kita bertahan hidup. Ketika kita terpengaruh berita buruk dan mengabaikan berita baik, sehingga pandangan menjadi negatif maka akan diikuti oleh aksi. Berita negatif tentang saham berhasil membuat ekonomi dunia lumpuh karena kepanikan dari Investor. Kita perlu belajar membedakan antara risiko nyata dan risiko yang dilebih-lebihkan.
- Insting Ukuran: Mempercayai pernyataan resmi tanpa melihat data dan fakta yang ada. Kita cenderung melebih-lebihkan pentingnya hal yang kita lihat dan meremehkan apa yang tidak kita lihat. Untuk mengatasinya, pertimbangkan besarnya suatu kasus dibandingkan dengan konteks yang lebih luas. Ketika disodorkan pada fakta bahwa 4,2 juta bayi meninggal setiap tahun, maka kita cenderung terpaku pada junmlah yang besar. Namun jika kita melihat konteks yang lebih luas ada lebih banyak bayi yang lahir dan tumbuh normal. Bila kita membandingkan data secara historical, maka melihat statistik di tahun 1950 an Dimana ada 14,4 juta bayi meninggal tahun itu membuat kita dapat mengambil kesimpulan yang berbeda. Kematian bayi tentu menyedihkan, namun kita bisa melihat bahwa tren kematian terus menurun yang dapat diartikan bahwa upaya untuk menyelematkan lebih banyak bayi berada di jalur yang tepat.
- Insting Generalisasi: Kita cenderung menggeneralisasi dan mengklasifikasikan orang dan hal-hal secara berlebihan. Untuk mengatasinya, coba lihat perbedaan dan variasi.
- Insting Takdir: Kita cenderung percaya bahwa hal-hal atau orang-orang tidak akan berubah. Untuk mengatasinya, ingat bahwa banyak hal dapat berubah.
- Insting Perspektif Tunggal: Kita cenderung terobsesi dengan satu ide dan mengabaikan alternatif lainnya. Untuk mengatasinya, sering-seringlah mencoba melihat dari berbagai perspektif.
- Insting menyalahkan Kita cenderung ingin mencari orang atau institusi yang bisa disalahkan dan melupakan sistem yang kompleks. Untuk mengatasinya, carilah penyebabnya bukan hanya menyalahkan.
- Insting Mendesak: Kita cenderung merasa harus bertindak segera dalam situasi mendesak, yang bisa membuat kita membuat keputusan yang buruk. Untuk mengatasinya, berikan waktu untuk berpikir dan merenung sebelum mengambil keputusan.
Beberapa kritikus berpendapat bahwa Rosling cenderung terlalu optimis dalam menginterpretasikan data dan statistik. Kritik ini menunjukkan bahwa buku ini bisa mempengaruhi pembaca untuk mengabaikan atau meremehkan beberapa masalah serius yang masih ada di dunia, seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan ketidaksetaraan gender. Tapi saya pribadi melihat bahwa buku ini adalah buku penyeimbang buku-buku lain yang memandang permasalahan secara kelam.
Tentu saja ada argumen yang beranggapan bahwa Penulis cherrypicking atau sengaja memilih data yang cenderung menyimpulkan bahwa dunia berjalan ke arah yang lebih baik. Namun penulis lain pun juga cherrypicking data sehingga sebagai pembaca kita pun perlu mengimplementasikan semua saran pada 10 insting tadi agar bisa melihat dunia dengan lebih objektif.



