Bagaimana Demokrasi Mati by Steven Levitsky
My rating: 3 of 5 stars

Buku ini menjelaskan bahwa Demokrasi yang kita nikmati sekarang bisa saja berubah menjadi despotik ataupun otoriter dalam waktu sekejap. Kehilangan Demokrasi dapat melalui proses yang kasar seperti kudeta militer atau memudar secara perlahan. Pudarnya demokrasi malahan dapat juga dilalui dari proses yang demokratis pula diawalnya.
Demokrasi mati ketika demagog – seseorang yang mendapat dukungan populer luas dan berasal dari luar establishment politik normal – naik ke kepemimpinan melalui cara-cara demokratis dan kemudian secara bertahap merusak aturan tertulis dan tidak tertulis dari demokrasi.
Penulis menjelaskan bahwa proses menuju despotik atau otoritarian bisa diamati dan bisa dihindari. Penulis mengumpamakan gagasannya seperti kertas litmus untuk menguji apakah proses menuju otokrasi sedang terjadi dalam sebuah sistem demokrasi.
4 penguji itu adalah :
1. Menolak atau memiliki komitmen yang lemah terhadap aturan-aturan demokrasi dan konstitusi. Penolakan secara ekstrim bisa dalam wujud menolak hasil pemilu, melakukan pembubarkan/pelarangan organisasi, serta mendukung upaya ekstrakonstitusional seperti kudeta, provokasi untuk melakukan kekerasan, dan mendukung gerakan-gerakan ekstrimis. Merubah konstitusi demi kepentingan oligarki ataupun kekuasaan adalah trend yang muncul belakangan ini. Perubahan konstitusi demi melanggengkan kepemimpinan terjadi di Rusia dan China.
2. Menolak legitimasi lawan politik. Ketika penguasa menganggap oposisi bukan lagi sebagai lawan melainkan musuh dan menyerangnya dengan alat kekuasaan. Demokrasi selalu ramai. Keberadaan oposisi adalah bentuk check and balances terhadap kebijakan yang dikeluarkan. Ketiadaan oposisi membuat pembuatan kebijakan rawan terhadap bias kepentingan. Corrupt ruler create corrupt rules. Penyerangan terhadap oposisi terjadi di Arab Saudi, Myanmar, dan Rusia.
3. Intoleransi dan mendukung jalan kekerasan. Beberapa pemimpin otoriter muncul dengan dukungan dari kaum intoleran dan para ekstrimis. Keduanya membentuk simbiosis yang bisa memutar balikkan keadaan, dimana masyarakat yang umumnya moderat menjadi tak berdaya oleh minoritas ekstrim ini.
4. Menunjukkan kecenderungan untuk membatasi hak-hak sipil lawan dan media.
How Democracies Die merupakan buku yang sangat relevan dengan situasi politik saat ini di banyak negara. Levitsky dan Ziblatt memberikan analisis yang kuat dan mendalam tentang faktor-faktor yang dapat mengancam demokrasi, serta mengajak pembaca untuk ikut berperan dalam mempertahankan demokrasi.
Bagian awal masih menarik karena memberikan banyak contoh munculnya otokrasi di berbagai negara. Sayangnya buku ini terlalu fokus pada politik Amerika terutama Trump. Tendensi dari penulis adalah untuk memberikan simpulan bahwa cara-cara politik Trump adalah ciri dari kepemimpinan otokrasi.
Lalu bagaimana dengan kondisi Indonesia dari Indikator penguji tersebut?
Sepertinya Indonesia masih Aman.



