Ukuran reruntuhan-reruntuhan itu menjadi saksi akan kemakmuran dan kekuasaan para pembangunnya dahulu — mereka menyombong, “Look on my works, ye mighty, and despair!” sebuah bait syair (Ozymandias oleh Percy B. Shelley) yang sangat menggambarkan kondisi tersebut. Para pembangun itu lenyap, meninggalkan struktur-struktur agung yang telah mereka bangun dengan susah payah.
Banyak peradaban-peradaban lama yang hanya meninggalkan sedikit jejak. Jejak yang sangat samar, terkadang reruntuhan, kadang sebuah peninggalan tulisan, dan terkadang ditemukan pada jejak cerita lisan. Ada pula peradaban yang mahysur dalam banyak catatan tulis maupun tradisi lisan namun tidak meninggalkan reruntuhan. Reruntuhan ataupun ketiadaan reruntuhan dari peradaban-peradaban tersebut meninggalkan sejumlah enigma. Bagaimana bisa mereka mendirikan masyarakat sebesar dan sekompleks itu? bagaimana bisa mereka bertahan hidup di kondisi lingungan yang berat (saat ditemukan) seperti itu? dan pertanyaan terpenting adalah: Mengapa mereka dulu eksis dan berjaya, lalu kemudian menghilang tanpa jejak dan sebagian hanya menyisakan reruntuhan misterius?
Dari berbagai enigma tersebut, sulit rasanya untuk tak mencoba membuat proyeksi akan masa depan. Apabila banyak peradaban masa lalu menghilang tanpa jejak, lalu bagaimana dengan peradaban dan masa depan kita? Belajar dari masa lalu adalah sebuah upaya untuk melihat masa depan. Melihat reruntuhan pada situs-situs sejarah juga sama seperti melihat cerminan masa depan, akankah masyarakat kita mengalami hal yang serupa ? Dapatkah keturunan kita memiliki masa depan yang katanya cerah itu atau justru mereka akan mengalami kemunduran yang menyebabkan kepunahan masyarakat kita sendiri, sama seperti hilangnya masyarakat-masyarakat masa lalu dalam berbagai cerita epos maupun kitab suci.
Jared Diamond memberikan thesis untuk buku ini:
Banyak dari keruntuhan misterius ini setidaknya dipicu sebagian oleh masalah-masalah ekologis: manusia secara tidak sengaja menghancurkan sumber daya lingkungan yang diandalkan masyarakat mereka.
Proses-proses perusakan lingkungan oleh masyarakat masa lalu dibagi ke dalam delapan kategori, yang kadarnya relatif berbeda dari kasus ke kasus: penggundulan hutan dan penghancuran habitat, masalah tanah (erosi, penggaraman, dan hilangnya kesuburan tanah), masalah pengelolaan air, perburuan berlebihan, penangkapan ikan berlebihan, efek spesies yang didatangkan terhadap spesies asli, pertumbuhan populasi manusia, dan peningkatan dampak per kapita manusia.
Reruntuhan Pulau Paskah, ditemukan penjelajah Eropa di abad ke-16 nyaris tanpa penghuni
Jared Diamond berupaya untuk membuktikan thesis diatas pada buku ini, namun karena proses keruntuhan dalam suatu masyarakat (societies) apalagi yang mendekati era modern biasanya berlangsung dalam waktu lama serta sering tersamarkan oleh banyak hal, selain itu keruntuhan akibat alasan ekologis atau alasan lain seringkali tersamarkan sebagai kekalahan militer. Disinilah letak kesulitannya: Masyarakat yang berbeda menanggapi masalah yang sama secara berbeda. Masalah penggundulan hutan adalah masalah klasik sejak manusia mengkolonisasi berbagai tempat di bumi, masyarakat Papua, Jepang, Tikopia, dan Tonga mengembangkan pengelolaan hutan yang berhasil dan terus makmur, sementara Pulau Paskah, Mangareva, dan Nors Tanah Hijau (Greenland) gagal mengembangkan pengelolaan hutan yang berhasil dan runtuh sebagai akibatnya. Disisi lain penulis mengakui bahwa absurd untuk mengklaim bahwa kerusakan lingkungan pastilah merupakan faktor utama dalam semua keruntuhan: keruntuhan uni Soviet adalah contoh modern bahwa hal itu tidak betul, sementara penghancuran Kartago oleh roma pada 146 SM adalah contoh kunonya. Jelas sekali bahwa faktor-faktor militer atau ekonomi saja bisa jadi sudah cukup.
Reruntuhan Gereja Hvalsey, Kaum Viking datang ke Greenland lalu lenyap dalam beberapa abad, menyisakan hanya suku Inuit sebagai penguasa kutub utara.
Jared Diamond berupaya untuk mengurai kompleksitas yang ada dengan menggunakan “metode komparatif” atau “percobaan alam”—dengan kata lain, membandingkan situasi-situasi alam yang berbeda dalam hal variabel yang diteliti. Peradaban-peradaban kuno memiliki kompleksitas yang bervariasi. Sebagian besar peradaban terutama yang berada di kepulauan memiliki faktor deterministik geografis besar sehingga tidak saling terkait ataupun memiliki kontak dengan masyarakat lainnya. Sehingga masyarakatnya mengembangkan cara hidupnya masing-masing dan menghasilkan masyarakat yang lestari dan runtuh. Ada pula lokasi ideal percobaan terkontrol tentang keruntuhan: dua masyarakat (Nors dan Inuit) yang bermukim di pulau yang sama, namun dengan budaya yang amat berbeda, sedemikian rupa sehingga satu masyarakat lestari sementara yang satunya lagi tumpas. Suku Maya menjadi satu contoh ketika masyarkat dalam masa yang berbeda menghadapi bencana lingkungan, yang satu dapat bangkit dan yang lain tumpas dan tak pernah kembali berjaya. Kalau ada yang mengira buku ini mendakwahkan determinisme lingkungan, contoh-contoh tadi memang lebih banyak dipengaruhi faktor lingkungan.
Faktor kebijakan dapat ditemukan pada masyarakat Jerman dan Jepang, dimana ketika Jepang menutup diri dari dunia luar, kesadaran akan kerusakan hutan dan keperluan menjaga kelestarian demi kepentingan jangka panjang dan masyarakat luas muncul. Keperluan borjuis dan aristokrat Jerman juga menghasilkan kebijakan lingkungan yang berkelanjutan. Bagaimana manajemen pemerintahan dua negara yang berbeda (Haiti dan Republik Dominika) yang berbagi pulau yang sama menghasilkan luaran yang berbeda membuktikan bahwa faktor geografis tidak semata-mata menjadi faktor yang dominan dan tidak dapat dikendalikan.
Jared Diamond selalu memberikan pembahasan secara komprehensif dari berbagai sisi. Pembahasan dari sisi lingkungan sangat lengkap. Walaupun dalam membaca problem-problem yang ada juga menyadarkanku bahwa solusi-solusi yang ada saat ini belum dapat menyelesaikan problem free riders dan tragedi kepemilikan bersama.