Membaca karya Nassim Taleb selalu memberikan pengalaman yang berbeda dan menyenangkan. Dengan gaya bahasa yang blak-blakan dan tajam, Taleb berhasil menjelaskan konsep-konsep yang kadang terasa menyulitkan untuk dipahami. Salah satu di antara konsep fenomenal yang dibahas Taleb adalah “Antifragile.”
Profil Taleb sebagai penulis cukup unik. Dia dikenal sebagai tipikal alfa-male yang tidak suka basa-basi dan blak-blakan dalam setiap tulisannya. Bahkan, ia sering kali meledek akademisi, birokrat, dan eksekutif perusahaan dalam bukunya secara langsung dengan menyebut nama. Ini tidak hanya menunjukkan keunikan karakternya, tetapi juga menegaskan gagasan utama yang diusungnya dalam “Antifragile.”
Anti-Rapuh
Antifragile, menurut Taleb, adalah sesuatu yang berbeda dari sekadar kuat atau tahan banting (robust). Dalam bukunya, Taleb memperkenalkan triad Fragile, Robust, dan Antifragile. Objek yang masuk kategori Fragile akan hancur saat berhadapan dengan gangguan. Robust, di sisi lain, adalah objek yang tetap tidak terpengaruh oleh gangguan, namun juga tidak mendapat keuntungan darinya. Nah, Antifragile adalah objek yang justru berkembang dan menjadi lebih kuat ketika terpapar volatilitas atau stressor.
Taleb memberikan analogi menarik melalui karakter mitologis Hydra. Ketika kepala Hydra dipotong, bukannya mati, malah tumbuh menjadi dua. Inilah inti dari antifragile: berkembang melalui tantangan. Dalam konteks modern, mungkin kita bisa melihat selebriti sebagai contoh antifragile; ketika diterpa rumor pun, tidak jarang justru popularitas mereka semakin meningkat.
Proses evolusi adalah contoh yang sempurna dari antifragility, di mana sistem secara keseluruhan menjadi lebih kuat dan adaptif meski tiap bagian konstituennya bersifat rapuh. Dalam evolusi, individu-individu makhluk hidup, yang cenderung rentan, berperan sebagai percobaan dengan memberikan informasi tentang genetik mana yang berhasil bertahan dan mana yang tidak. Ketika makhluk hidup gagal bertahan, ruang hidup terbuka bagi individu yang lebih sukses untuk berkembang.
Hal serupa terjadi dalam ekonomi; meski banyak elemen seperti usaha kecil atau korporasi besar bisa gagal, kegagalan ini justru memperkuat ekonomi secara keseluruhan. Dengan belajar dari kegagalan usaha, industri menjadi lebih kuat dan mampu beradaptasi terhadap perubahan dan tantangan. Prinsip antifragility ini menggambarkan bagaimana kegagalan di tingkat mikro dapat memicu keberhasilan di tingkat makro.
Menghadapi ketidakpastian dan volatilitas hidup adalah hal yang tak terhindarkan. Untuk menjadi antifragile, kita perlu menerima ketidakpastian ini dan belajar mengelolanya alih-alih menghindari atau menghilangkannya.
Kerapuhan Kita
Bayangkan anda harus menghadiri konferensi penting, anda sudah punya tiket di tangan. Namun, semua itu bisa berubah menjadi mimpi buruk jika penerbangan Anda tiba-tiba dibatalkan. Dalam situasi seperti ini, Anda terjepit (squeeze) dan harus memesan tiket mahal pada menit terakhir. Ini adalah ilustrasi sempurna dari situasi di mana pilihan terbatas dan biaya meningkat. Biaya squeeze bergantung pada ukuran pihak yang terdampak; semakin besar, semakin parah tekanan yang dirasakan. Jika hanya Anda yang terpengaruh, anda hanya perlu mencari tiket yang mungkin sedikit lebih mahal, tetapi jika delegasi besar seperti dari universitas mengalaminya, penyediaan kursi pengganti bisa menjadi sangat sulit, bahkan memaksa mereka membeli tiket kelas satu atau menyewa jet pribadi. Dalam skala global, ekonomi yang saling terhubung menjadikan dunia semakin rentan terhadap tekanan besar. Misalnya, krisis pasar saham dapat merambat secara global, memaksa bank untuk memotong pendanaan, bisnis untuk mem-PHK karyawan, dan banyak orang akhirnya kehilangan rumah. Squeeze ekonomi saat ini bersifat global dan universal, demikian pula dengan dampak penderitaan yang ditimbulkannya.
Sekarang, bayangkan Anda adalah seekor kalkun pada hari Oktober yang sejuk, dengan riangnya berkeliaran. Jika Anda harus memprediksi masa depan dengan melihat masa lalu yang baru saja terjadi, Anda tak akan punya alasan untuk khawatir. Setiap hari, pemilik Anda memberi makan dengan baik dan memastikan Anda sehat. Oleh karena itu, Anda mungkin dengan percaya diri memprediksi bahwa pemilik Anda menyayangi kalkun dan masa depan Anda tampak cerah. Namun, pada Hari Thanksgiving, Anda akan terkejut (karena disembelih). Ini mencerminkan salah satu masalah utama zaman modern, yaitu membuat prediksi tentang masa depan berdasarkan pandangan yang sempit terhadap masa lalu.
Korban
Banyak profesi modern bersifat antifragile, namun hal ini sering kali terjadi dengan mengorbankan pihak lain. Misalnya, sebelum krisis keuangan 2008, banyak pakar keuangan dengan percaya diri menyatakan bahwa ekonomi dunia aman, tetapi kenyataannya berbalik, menyebabkan banyak orang kehilangan investasi, rumah, dan dana pensiun.
Walaupun prediksi mereka salah, sebagian besar pakar ini tetap mempertahankan posisi mereka tanpa perlu meminta maaf, karena mereka bekerja di bidang yang saling terhubung dan enggan mengkritik satu sama lain. Pejabat pembuat kebijakan publik juga kadang berada dalam posisi ini. Mereka membuat aturan yang tidak berpengaruh pada kehidupan mereka namun berdampak signifikan pada kehidupan banyak orang.
Tanpa memiliki “skin in the game,” para pakar , bankir dan pejabat publik dapat membuat kebijakan buruk tanpa risiko pribadi. Berbeda dengan abad pertengahan, di mana bankir/pejabat yang gagal bisa menjalani hukuman berat, hari ini mereka mendapatkan bonus besar tanpa mempertaruhkan uang atau reputasi mereka sendiri ketika gagal. Antifragility semacam ini hanya menguntungkan segelintir orang, sementara kerugian ditanggung oleh banyak pihak lainnya.
Dialog Nero dan Fat Tony
Ciri lain dari buku Nassim Taleb yang muncul sejak Black Swan adalah kemunculan karakter alter-ego bernama Nero dan Fat Tony. Keduanya sering digunakan Nassim Taleb sebagai kendaraan untuk membuat point-point tertentu dalam wujud dialog atau laku sikap yang dilakukan karakter tersebut. Di buku ini ada dialog antara Fat Tony dengan Socrates, dialog tersebut mengingatkanku pada buku Anatomi Rasa yang aku baca beberapa waktu lalu. Fat Tony mengadvokasi bahwa manusia punya kesadaran dan pengetahuan yang tidak bisa dideskripsikan ke dalam batasan-batasan rasional, tapi dirinya tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tidak ada warna biru dalam bahasa yunani, bukan berarti manusia pada jaman itu buta warna, mereka mungkin buta warna secara kultural (bahasa). Namun, secara fisik mereka dapat membedakan berbagai warna. Mereka hanya tak punya definisi atau kata yang mewakili saja. Maka, sesuatu yang oleh para kaum rasionalis disebut sebagai irasional belum tentu tidak masuk akal.
Membaca “Antifragile” memang memerlukan konsentrasi, tetapi konsep dan pendekatan yang diajarkan sangat berguna, terutama dalam mengidentifikasi fragility dan mengembangkan strategi untuk menjadi antifragile. Buku ini tidak hanya kaya akan filosofi tetapi juga memberikan wawasan bagaimana kita bisa berkembang dan memperkuat diri menghadapi ketidakpastian.
Untuk pembaca yang tertarik dengan dinamika perubahan dan cara menghadapi ketidakpastian, “Antifragile” akan menjadi bacaan yang sangat menyenangkan.



