
Teh dan Pengkhianat by Iksaka Banu
My rating: 4 of 5 stars
Iksaka Banu memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2 Kali dengan cerpennya.
Teh dan Pengkhianat masih memiliki kemiripan dengan Semua Untuk Hindia, mulai dari latar waktu pada periode kolonial Belanda dan penggunaan sudut pandang dari orang-orang Indo dan Belanda. Untuk latar lokasi dan peristiwa sendiri menurutku tidak seheroik pada cerpen-cerpen yang ada di Semua untuk Hindia, dimana banyak peristiwa besar seperti perang aceh dan perang puputan yang dipenuhi dengan berbagai adegan kekerasan. Meskipun begitu latar peristiwa yang diangkat kebanyakan adalah peristiwa-peristiwa yang tidak heroik tapi pernah menjadi bagian keseharian masyarakat pada masa kolonial.
Peristiwa pemberontakan petani teh tionghoa hampir tak pernah terdengar ataupun diajarkan pada buku sejarah. Korupnya para pegawai kolonial juga digambarkan dalam beberapa cerpen, yang paling menarik tentunya adalah Kutukan Lara Ireng, sebuah cerita tentang perdagangan opium dimasa kolonial.
Peristiwa bersejarah lain yang sering terlupakan adalah Peristiwa Mogok dan Boikot Buruh pekerja pelabuhan di Australia, judul cerpen Indonesia memanggil pada buku ini mengambil judul dari film dokumenter tentang peristiwa ini yaitu Indonesia Calling. Walaupun bukan perjuangan fisik, boikot ini sebenarnya cukup heroik, mengingat terjadi di luar Indonesia dan mendapat dukungan dari para buruh lainnya yang bukan orang Indonesia dan negaranya bersekutu dengan Belanda untuk menolak kolonialisme.
Tokoh Indonesia yang baru aku kenal dari cerpen ini adalah Roehana Koeddoes. Walaupun diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2019, dari cerita pendek berjudul “Belenggu Emas” dalam buku ini aku mengetahui betapa signifikannya peran Roehana Koeddoes.
Buku ini cukup tipis dan menyenangkan untuk dibaca. Bahasanya ringkas dan tidak terlalu banyak bermain-main kata. Sehingga menjadi buku yang cocok untuk dibaca kala sedang dalam reading slump atau terlalu pusing membaca buku berat lainnya. Walaupun penulisnya berusaha untuk tidak membuat kumcer ini sebagai buku sejarah yang terkesan menggurui, sulit rasanya menghindar dari tokoh-tokoh yang tercerahkan dan punya horizon luas sekaligus naif.



