Resensi:Good Economics for Hard Times

Share the Post:
Buku ini ditulis oleh pasangan pemenang Nobel Ekonomi tahun 2019. Struktur buku dirancang dengan memperbandingkan aksi dan reaksi kebijakan ekonomi Amerika Serikat dengan Negara-negara lain di dunia.
Image by yousef masoud from Pixabay
Good Economics for Hard Times: Better Answers to Our Biggest Problems

Good Economics for Hard Times: Better Answers to Our Biggest Problems by Abhijit V. Banerjee
My rating: 4 of 5 stars

Buku ini ditulis oleh pasangan pemenang Nobel Ekonomi tahun 2019 yang secara kebetulan juga merupakan pasangan suami-istri. Background Abhijit Banerjee yang merupakan warga keturunan India dan menghabiskan masa muda nya di India sebelum menjadi pengajar di MIT, sehingga studi nya tentang ekonomi negara berkembang tidak hanya berupa analisa kuantitatif saja, namun juga melihat kondisi sesungguhnya.

Struktur buku dirancang dengan memperbandingkan aksi dan reaksi kebijakan ekonomi Amerika Serikat dengan Negara-negara lain di dunia. Isu Imigran, perang dagang, pajak, mekanisasi dan otomatisasi, pendampingan kelompok rentan, dan universal basic income adalah isu-isu yang banyak dibahas di publik Amerika. Penulisnya sepertinya berusaha menyadarkan publik Amerika secara khusus bahwa isu dan respon yang diberikan warga Amerika terutama para penganut aliran politik konservatif dalam isu-isu tersebut sangat berbeda dengan data dan kenyataan yang ada.

Respon kalangan konservatif Amerika mengenai imigrasi, pajak, dan isu-isu lain hampir selalu berbeda dan bertolakbelakang dengan respon negara-negara dunia ketiga bahkan negara uni eropa. Upayanya untuk menyadarkan hal tersebut adalah dengan memberikan contoh hasil studi yang dilakukan di Negara-negara berkembang untuk melihat signifikansi suatu program atau kebijakan. Amerika Serikat memang termasuk negara maju, walaupun tingkat ketimpangan ekonomi lumayan tinggi namun dibandingkan dengan kondisi global, apa yang diklasifikasi sebagai miskin di Amerika Serikat tidaklah terlalu menderita sehingga kesuksesan program yang dipandang sebelah mata oleh konservatif maupun liberal kadang tidak terlihat signifikan dengan membandingkan program yang serupa di Negara lain maka diharapkan akan muncul kesadaran akan realitas ini. Mengapa kebijakan ekonomi Amerika Serikat perlu . Disisi lain bagi negara berkembang Amerika selalu dilihat sebagai contoh bertumbuhan yang sukses dari masa lalu, sehingga banyak negara meniru program dan kebijakannya, meskipun begitu konsekuensi jangka panjang dari kapitalisme ala Amerika puluhan tahun setelah perang dunia kedua malah menujukkan trend ketimpangan dan meninggalkan orang-orang yang rentan secara ekonomi sendirian.

Pemikiran tentang imigran dimasa sekarang banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu, yaitu ketika gelombang imigrasi di dominasi oleh orang-orang buangan seperti halnya masyarakat kulit putih amerika dan australia di awal-awal kolonisasi benua tersebut, sehingga ditakutkan kedatangan para imigran ini hanya menimbulkan kerusakan. Selain itu kedatangan imigran selalu ditakutkan akan membuat upah pekerja turun karena suplai tenaga kerja yang meningkat, sesederhana teori suppy and demand.

Kenyataannya, imigran di era saat ini adalah imigran yang punya modal “cukup”, yaitu cukup berpendidikan, cukup punya alasan kuat untuk berpindah karena perang ataupun tekanan politik atau ekonomi, dan cukup punya stamina dan niat kuat untuk pindah, hal ini karena barrier untuk beremigrasi pada masa kini sangatlah sulit dibandingkan abad sebelumnya dimana yang cuma seharga tiket penyeberangan. Pun, jika imigran tersebut tidak punya skill, mereka akan mengisi pekerjaan-pekerjaan yang enggan dilakukan oleh warga lokal atau menciptakan pekerjaan/pelayanan baru yang bahkan belum ada di lokasi tujuan. Selain itu kedatangan imigran juga mendorong datangnya permintaan baru untuk memenuhi kebutuhan para imigran, sehingga selain supply tenaga kerja meningkat, permintaan untuk memenuhi kebutuhan para tenaga kerja baru juga meningkat, sehingga hal ini tidaklah membuat upah turun.

Fakta lain adalah “many people, regardless of any incentives on offer, will choose not to move from their home”. Ini terjadi pada kasus emigrasi di dalam negara, dimana pekerja tidak selalu berpindah ke tempat lain yang memiliki upah lebih tinggi karena berbagai alasan. Parahnya lagi adalah meskipun demografi penolak imigran sudah diberikan fakta-fakta ini, persepsi mereka tentang imigran tetaplah negatif, jadinya menurut penulis penolakan terhadap imigran lebih condong kepada insekuritas komunitas terhadap ketidakpastian yang akan terjadi ketika imigran dibiarkan masuk. Asumsi sederhana supply and demand juga tidak berlaku untuk perdagangan besar maupun kecil terutama dari negara berkembang. Banyak retailer dan pembeli rela membayar lebih mahal, selama ada jaminan kualitas dan reliabilitas dari produsen.

Buku ini menawarkan berbagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di negara maju dan berkembang, namun penulisnya cukup berbesar hati dengan mengakui, pertumbuhan ekonomi yang terjadi di Amerika, Eropa, Cina, India, Jepang, Afrika dan seluruh belahan bumi ini tidak bisa disimpulkan dalam satu resep atau formulasi tunggal ekonomi. Buku ini sekaligus memperingatkan bahwa kebijakan ekonomi yang fokus pada pertumbuhan (GDP/PDB) bisa saja membuat statistik suatu negara terkerek naik, namun hal ini juga menyebabkan semakin meningkatkan tingkat kesenjangan antara si kaya dan si miskin, serta menekan kelas menengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts