Resensi: Cadl- Sebuah Novel Tanpa Huruf ‘e’

Share the Post:
Sebuah novel tanpa huruf 'e' sudah cukup membuatku penasaran untuk membacanya
Image by NoName_13 from Pixabay
CADL: Sebuah Novel Tanpa Huruf E
Penasaran

Sulit untuk menolak tawaran buku ini.

Sebuah novel tanpa huruf ‘e’ sudah cukup membuatku penasaran untuk membacanya, bahkan aku tak membaca sinopsisnya. Aku lebih penasaran bagaimana strategi penulisnya menghilangkan huruf itu. Terlebih lagi dari semua eksperimen sastra, ini adalah eksperimen yang bisa diukur dengan mudah bahkan oleh pembaca awam.

Membedah Strategi Tanpa Huruf ‘E’

Strategi pertama penulis adalah menciptakan dunianya sendiri yang unik dan bisa penulis kuasai secara utuh tanpa harus terkait dengan realita dan pengetahuan umum pembacanya. Penulis bisa memilih Utopia ataupun Distopia, tentunya distopia lebih membebaskan. Aturan khas distopia bahwa Negara Wiranacitra dipimpin oleh seorang diktator yang berkuasa seumur hidup, jabatan diwariskan kepada anaknya, dan apabila tidak ada pengganti maka pengganti ditunjuk oleh diktator tahana dengan calon yang dapat menunjukkan mukjizat dan lolos upacara tebar tuai abu pisang.

Berdasarkan strategi ini aturan-aturan dan ritual yang nyeleneh pun dapat dimunculkan dalam buku ini. Aturan tersebut diantaranya adalah Penggantian nama. Diceritakan bahwa adat penamaan warga Wiranacitra sebelum Zaliman yang Mulia berkuasa adalah memberikan nama-nama mengandung kata-kata kasar dan nama binatang. Munculah nama-nama seperti Kelamin Lanjarjati, Jahanam Jahadiyah, Bangsat Riana Bolotwati, Gundulmu Sangga Masyuka, Zakaria Sangga Masyuki, hingga Bajingan Cukimarno. Ketika aturan penggantian nama muncul mereka terkadang hanya mengurangi huruf depan saja sehingga nama mereka menjadi Lamin, Hanam, Satriana, Dul, Karia, dan jingan. Tentu ada pengecualian nama Babi bisa dirubah mengikuti penamaan asing menjadi Baby. Penggantian nama-nama ini bisa saja dikaitkan dengan aturan penamaan warga indonesia keturunan asing ataupun penamaan orang jawa kuno yang juga menggunakan nama-nama binatang. Menariknya aturan perubahan nama dibuku ini ditujukan untuk warga pribumi. Satu-satunya warga asing di novel ini yaitu Ivan Barbarovich malah menjadi orang tidak pernah mengganti namanya. Menariknya pekerjaan Ivan Barbarovich warga keturunan rusia yang tak bisa bahasa rusia atau menulis huruf kiril serta bekerja sebagai polisi bahasa justru membuatku mengasosiasikannya dengan Ivan Lanin.

Strategi kedua yang digunakan penulis adalah dengan mengganti kata-kata yang menggandung huruf ‘e’ dengan padanan kata lain yang sama, hari senin dan selasa diganti menjadi hari Soma dan Anggara yang berasal dari bahasa bali, Sekolah menjadi Maktab, sepatu menjadi kasut, lalu kabel menjadi kawat. kata-kata aktif dengan menggunakan awalan ‘me-‘ sudah pasti banyak dihilangkan.

Strategi ketiga, ketiga kata tersebut sulit digantikan maka tinggal disingkat saja, pongam (telePON genGAM), sansing (peSAN SINGkat), ratron (peRAlatan elekTRONik), W-azab, fasiltuman(fakultas ilmu tubuh manusia, pengganti fakultas kedokteran).

Okee, penjabaran diatas adalah strategi agar huruf ‘E’ tak masuk dalam novel, lalu bagaimana dengan kualitas ceritanya?. Meskipun menawarkan premis yang menarik, sayangnya alur ceritanya agak sulit diikuti maksud dan tujuannya, setting waktu mengambil tahun 2027, lalu melompat ke tahun-tahun ketika zaliman masih muda, lalu melompat ke waktu dalam bentuk H-Minus yang tidak bisa dideteksi terjadi kapan. Point of viewnya menggunakan orang pertama yaitu lamin dan kadang berubah menjadi orang ketiga serba tahu.

Kualitas Cerita?

Bagus Prihardana-tokoh misterius dalam buku ini, digambarkan punya kemampuan meramu puisi yang baik. Namun kualitas puisi yang dihasilkan oleh tokoh tersebut tidak ditunjukkan sama sekali. Kekuatan puisi itulah Zaliman khawatir, hanya saja bagaimana pembaca bisa menilai bahwa kekhawatiran itu memang masuk akal atau hanya delusi dari Zaliman saja. Kehebatan Bagus Prihardana hanya ditunjukkan oleh narasi bahwa itu puisi-puisinya berisi perlawanan terhadap diktator. Zaliman takut ketidakkonsistenannya dalam memimpin akan ditemukan. Padahal dalam berbagai riwayat, sikap diktator yang kontradiktif itu sudah biasa, dan justru lebih mirip puisi, bilang gini maksudnya begitu. Sehingga alasan mengapa diktaktor Zaliman malah menghindari ketidakkonsitenan tidak dapat aku tangkap dengan baik. Malah menurutku, seharusnya Zaliman lebih takut kalau mukjizat yang ia ciptakan ternyata terbongkar sebagai sebuah kebetulan semata.

Secara keseluruhan, buku ini memberi pengalaman membaca yang baru, ketidakhadiran huruf ‘e’ yang merupakan huruf vokal yang penting ternyata tidak membuat kesulitan pembaca, hanya butuh penyesuaian sebentar, adanya catatan kaki juga cukup membantu. Kurasa ini adalah buku berbahasa Indonesia yang setidaknya harus dibaca sekali seumur hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts