Resensi: Totto-Chan

Share the Post:
Totto-chan yang dianggap mengganggu kegiatan belajar-mengajar dikelas. Ia dipindahkan ke SD Tomoe, sebuah sekolah dengan bangunan kelas yang terdiri dari serangkaian gerbong kereta.
Image by Ylanite Koppens from Pixabay
Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela

Totto-chan: Gadis Cilik di Jendela by Tetsuko Kuroyanagi
My rating: 5 of 5 stars

Totto-chan tokoh utama dalam cerita ini dikeluarkan dari SD nya karena gurunya sudah tidak tahan lagi menghadapi tingkah laku Totto-chan yang dianggap mengganggu kegiatan belajar-mengajar dikelas. Totto-chan kemudian dikeluarkan dari sekolahnya. Ia dipindahkan ke SD Tomoe, sebuah sekolah dengan bangunan kelas yang terdiri dari serangkaian gerbong kereta. Totto-chan kemudian bertemu dengan Sosaku Kobayashi sang kepala sekolah bergigi ompong yang mau mendengarkan celotehan Totto-chan selama 4 jam di hari pertama mereka bertemu.

Pembelajaran di Sekolah ini agak berbeda dari sekolah pada umumnya, dimana guru memberi informasi sebanyak-banyaknya untuk diterima dan diserap oleh murid. Sekolah ini tidak memaksa murid untuk mengikuti jam pelajaran yang dijadwalkan secara kaku. Jam bebas tanpa jadwal pelajaran di sekolah ini lebih panjang daripada sekolah pada umumnya. Murid bebas bereksplorasi sesuai dengan keinginan dan minat mereka masing-masing pada jam bebas ini. Guru akan membantu apabila mereka mengalami kesulitan.

Kontekstualisasi materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari menjadi salah satu metode yang diajarkan di sekolah ini. Misalkan Murid-murid diminta membawa makan siang dengan bahan dari laut dan dari gunung, saat makan siang kepala sekolah memeriksa menu makanan mereka, kemudian berdiskusi apabila ada menu yang mereka tidak tahu asalnya dari mana. Kemudian saat murid-murid memutuskan untuk berjalan-jalan guru bertanya mengapa bunga mekar? kemudian memberi penjelasan tentang semua hal yg berkaitan. Sekolah Tomoe juga berusaha mengakomodasi berbagai keingintahuan murid-muridnya, ini terlihat ketika murid-murid penasaran bagaimana gerbong kereta yang akan menjadi perpustakaan akan datang. Guru melihat ini kesempatan untuk memberikan pelajaran, sehingga murid-murid yang ingin tahu proses instalasi gerbong di sekolah mereka boleh datang di malam hari ketika instalasi dimulai.

Totto-chan menurutku mewakili sebagian besar karakter anak-anak pada umumnya. Totto-chan berganti cita-cita dari waktu ke waktu, mulai dari mata-mata, penjaga karcis di stasiun, sampai balerina. Rasa penasarannya akan suatu hal. Tingkah polah dan interaksi dengan anak-anak lain, lingkungan dan orang-orang di sekitarnya terasa normal. Totto-chan adalah simbol dari anak yang terpinggirkan dari sistem pendidikan konvensional. Jadi mungkin banyak anak-anak yang sebenarnya normal dan baik-baik saja namun ditinggalkan oleh sistem pendidikan konvensional. Kisah Totto-chan ditulis pada 1982 dan mengambil setting waktu sesaat sebelum Perang Pasifik. Kisah ini masih terus relevan hingga kini menggambarkan ada yang salah dengan sistem pendidikan, namun perbaikannya masih berjalan sangat lambat.

View all my reviews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts