Siddhartha by Hermann HesseMy rating: 3 of 5 stars
Buku ini termasuk salah satu karya klasik yang direkomendasikan untuk dibaca, tebalnya pun cuma 168 halaman, inilah salah satu hal yang membuat aku tertarik untuk membaca, sebuah buku tipis dengan rating tinggi. Covernya berawarna merah dengan gambar kepala arca yang seingatku saat pelajaran di sekolah dulu adalah ciri arca hindu. Di bawah kepala arca diikuti dengan judul “Siddhartha”, secara langsung aku lebih mengasosiasikannya dengan Siddartha Gautama sang Buddha. Nah yang menarik adalah setelah font judul terdapat simbol om dibawahnya, simbol yang lebih sering diasosiasikan dengan ajaran hindu, budha dan jain di India. Aku mencoba melihat cover versi lainnya di goodreads, semuanya mengasosiasikan dengan Buddism, kenapa di cover versi ini agak ambivalen ya?
Baru setelah aku membaca buku ini perlahan-lahan aku lebih paham, ternyata kisah ini tidak menceritakan Sang Budha Gautama, tetapi seorang tokoh bernama Siddharta yang berasal dari kasta Brahmana dan perjalanannya dalam pencarian jati diri secara spiritual. Hidupnya harusnya sempurna, ia pemuda tampan, cerdas, dan berasal dari kasta yang baik. Mengambil perumpaan sebuah cawan untuk hidupnya, siddartha mendeskripsikan bahwa wadah itu belum juga penuh, roh belum merasa puas, jiwa tidak merasa tenang, hati belum merasa cukup. Ia memutuskan untuk menjadi Samana. Sampai disini agak sulit memahami beda antara samana dengan brahmana, namun kesimpulan yang bisa kutarik adalah brahmana terikat pada ritual-ritual dan pelayanan untuk umat sehingga masih mendapatkan timbal balik berupa harta atau penghormatan sedangkan samana mungkin lebih mirip mistikus atau sufi. Saat keluar dari rumahnya untuk berkelana menjadi samana ia ditemani oleh Govinda.
Lama menjadi samana Siddartha tak menemukan ketenangan batin yang ia cari, ia masih merasa kosong. Siddhartha dan Govinda kemudian mendengar ada seorang laki-laki, namanya Gautama,
sang Buddha, ia sudah mengalahkan penderitaan dunia dalam dirinya dan menghentikan siklus kelahiran kembali. Tertarik pada ajaran tersebut, merekapun mendatangi Gautama. Siddartha merasakan bahwa benar sang budha memiliki aura yang berbeda, Siddartha yakin Gautama telah beroleh keadaan yang sangat diidamkannya sejak dulu, namun saat mendengarkan ajaran sang buddha ia merasa tak ada hal baru yang membuat pencariannya terang-benderang, ia masih merasa metode/cara yang ditawarkan Sang Buddha tak bisa mengisi kekosongan dalam kalbunya.
Ketika pencariannya dengan menjadi Samana dan belajar dari Sang Buddha tak menemukan titik terang. Siddartha percaya bahwaw apa yang ia cari tak ada pada ajaran-ajaran yang para pendeta, samana dan buddha ajarkan. Siddartha memutuskan pergi sekali lagi untuk mencari pencerahan. Ia keluar dari hutan dan menuju kota. Masih dengan perawakan samana dan tanpa perbekalan, Siddartha Siddartha bertemu dengan Kamala, sang pelacur terkenal di kota. Siddartha memutuskan untuk belajar darinya. Di kota Siddartha terjebak oleh dunia, hawa nafsu, ketamakan, kemalasan, dan akhirnya juga oleh sifat buruk yang dulu sangat dibencinya dan yang ia cemooh sebagai yang paling bodoh dari semua sifat buruk: keserakahan. Bersama Kawasmami si pedagang ia kumpulkan harta. Bersama dengan orang kota lainnya ia habiskan harta yang sudah diperolehnya dalam perjudian dan pesta-pesta. Siklus ini ia ulang terus menerus, pun dahaga dalam diri Siddartha tak tertuntaskan.
Sidharta masih terus merasakan derita entah ketika sebagai samana ataupun saudagar, sampai tibalah ia bertemu dengan Vasudeva dalam pelariannya sekali lagi ke dalam belantara hutan.
Buku ini sangat menarik, meskipun banyak bahasa simbolis yang menurutku untuk versi bahasa Indonesianya terdengar aneh karena cenderung berputar, namun ketika melihat versi inggrisnya ternyata Quotable banget. Sungai adalah metafora yang sungguh indah dibuku ini. Peristwa menyebrangnya Siddartha dari hutan ke kota melalui sungai, mengingatkanku akan dongeng di kampus dulu tentang diculiknya Dewi Geografia oleh Quantifactus dari Qualifactus yang mengharuskan penculiknya menyeberangi Fluvia Calculus. Sisi Hutan berisi para Pendeta, Samana, dan pengikut Sang Buddha, orang yang fokus pada kualitas rohani dan spiritual atau Kualitas. Sisi lain warga kota adalah orang-orang biasa yang biasanya jatuh pada hal-hal yang bersifat material, akumulasi kekayaan dan kekuasaan dalam berbagai skala atau hal-hal mengutamakan kuantitas. Sungai yang membelah keduanya terlihat tak berubah, namun sesungguhnya sangat dinamis, mengalir dari hulu dan bermuara di hilir, di lautan lepas nan luas.
View all my reviews



