Resensi: Kura-kura Berjanggut

Share the Post:
Berkisah tentang kehidupan di Bandar Lamuri, sebuah bandar yang terletak di sisi pantai barat pulau Sumatra dan berada di selat malaka yang sangat sibuk dengan aktivitas perdangangan.
Image by Uwe Jelting from Pixabay

Kura-Kura BerjanggutKura-Kura Berjanggut by Azhari Aiyub
My rating: 4 of 5 stars

Seperti sama dengan kebanyakan pembaca Kura-Kura Berjanggut, hal utama yang selalu dituliskan dalam review adalah menyampaikan kelegaan karena bisa menyelesaikan membaca novel ini.Novel ini tebal..banget, mungkin ada banyak orang yang sudah menyerah hanya ketika baru tahu jumlah halamannya atau kelelahan ditengah bacaan sehingga menyerah dan tidak merampungkan bacaannya. Kelegaan itu jugalah yang aku rasakan ketika bisa menyelesaikan buku ini.

Buku ini berkisah tentang kehidupan di Bandar Lamuri, sebuah bandar yang terletak di sisi pantai barat pulau Sumatra dan berada di selat malaka yang sangat sibuk dengan aktivitas perdangangan. Lamuri sendiri adalah nama lama sebuah kerajaan yang berdiri di abad ke 8 yang kemudian dikenal sebagai Aceh. Lokasi Lamuri yang cukup strategis ini mengundang banyak kapal bersandar dan orang yang hilir mudik di bandar ini mencari peruntungannya.


Ada 3 latar waktu dalam buku ini. Latar waktu pertama yang mengambil hampir dua pertiga bagain buku mengambil latar waktu pada akhir abad ke 16 hingga awal abad baru. Bandar lamuri mengalami pasat-surut yang cukup ekstrim pada masa ini, namun dapat dikatakan pula bahwa Lamuri mencapai masa kejayaannya pada waktu ini. Latar waktu kedua terjadi pada kisaran awal pada ke 20 ketika perang aceh usai. Latar ketiga mengambil waktu pada sebuah konferensi peringatan kematian seorang tokoh yang terjadi di awal abad 21.

Konflik yang berkelindan antara para Penguasa Lamuri, Kongsi Dagang, dan sebuah kelompok misterius bernama Kura-Kura Berjanggut dalam rentang waktu tersebut menjadi tema utama buku ini.

Latar waktu dan peristiwa yang terjadi di pergantian abad ke 16 menjadi bagian yang paling dominan di buku ini dan bagiku bagian ini pulalah yang paling menarik. Semuanya dirangkum dalam bagian 1 berjudul Buku Si Ujud. Sesuai namanya, buku ini adalah tulisan yang di tulis oleh Si Ujud yang hidup di kisaran pergantian abad ke 16. Isinya campuran antara jurnal pribadi, cacatan perjalanan dan biografi orang-orang yang dikenal oleh sang penulis. Sehingga banyak kisah yang diceritakan dari sudut pandang orang pertama. Sifatnya yang seperti catatan, membuat kadang setiap peristiwa atau cerita melompat-lompat dari satu ke yang lain, kadang berhenti lalu kemudian berganti cerita lalu menyambungnya kembali, atau kadang hanya satu cerita yang tak penah selesai karena dia juga memang tak tahu kelanjutannya.

Perhatianku terkadang teralihkan sejenak ketika membaca buku ini ketika menemukan peristiwa atau tokoh yang membuat aku tertarik. Bahkan aku sempatkan membaca glosari yang ada diakhir di buku ini untuk peristiwa, nama, dan lokasi yang terlewat. Saat kucoba mengecek di internet ternyata peristiwa atau tokoh itu menarik sekali. Hal itu membuatku malah berhenti membaca novel dan sibuk mencari tahu tentang peristiwa atau tokoh tersebut. Penyakit skorbut yang ternyata obatnya hanya vitamin C ternyata adalah salah satu pembunuh dalam pelayaran jarak jauh. Jenis-jenis kapal yang digunakan pedagang dan perompak ternyata juga bervariasi. Hukum membunuh saudara yang disetujui ulama juga benar adanya. Hal-hal trivial seperti ini lah yang membuatku ketagihan untuk terus melanjutkan membaca.

View all my reviews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts