
Perempuan di Titik Nol by Nawal El Saadawi
My rating: 5 of 5 stars
Muka saya menghadap ke arah mukanya, dan mata saya memandang ke dalam matanya. Saya dapat melihat dua cincin dengan warna putih bersih melingkari dua lingkaran hitam pekat memandang ke arah saya. Saya terus memandangnya. Yang putih menjadi semakin putih, dan yang hitam semakin menjadi hitam, seperti cahaya yang membayang dari, sumber yang tak diketahui, yang misterius, bukan ada di bumi, juga bukan di langit, karena bumi berselimut malam, dan langit tak bermatahari pun tak berbulan untuk meneranginya.
Firdaus adalah nama yang menurutku lebih banyak diberikan kepada laki-laki dan dapat diartikan sebagai surga tertinggi. Namun Firdaus tokoh dalam cerita ini adalah seorang perempuan yang berada dipenjara yang sedang menunggu eksekusi matinya.
Sambil menunggu eksekusinya ia menceritakan kisahnya pada dokter yang mengunjunginya di penjara.
Hidup Firdaus sejak kecil tidaklah mudah. Sebagai anak perempuan ia tidak dianggap berharga. Ia dilecehkan oleh teman, orang terdekat, dan bahkan kerabatnya yang ia lebih cintai daripada keluarganya. Namun Firdaus belumlah bisa mengerti dan memahami semua itu.
Firdaus menyelesaikan sekolah menengahnya dengan memperoleh nilai terbaik. Namun saat kembali ke keluarga pamannya. Ia dianggap sebagai beban. Ia dijodohkan kepada seorang duda terhormat namun usianya terpaut jauh darinya. Jika perjodohan ini berhasil, mereka bahkan bisa menerima uang mahar. Usulan ini bahkan diajukan oleh istri pamannya sendiri.
Firdaus mencoba lari, namun ketakutan masih muncul dalam dirinya.
Firdaus kemudian menikahi Duda yang katanya terhormat. Duda ini hanya mau dilayani, lain waktu malah memukulinya. Ia kembali ke rumah pamannya, mencari perlindungan, malah pamannya berkata bahwa Suami memukuli istrinya adalah suatu hal yang biasa. Ketika dipukuli kembali oleh suaminya, Firdaus memutuskan pergi, ia bertemu dengan Bayoumi. Tidak seperti Suaminya, Bayoumi tidak memukulinya tanpa sebab, Firdaus menemukan sesuatu yang lebih baik.
Namun apa yang Firdaus rasa baik hanya berlaku sebentar saja. Ia terjebak dalam lingkaran setan. Ia terus mencari apa yang baik bagi dirinya, ia mencari kebebasannya. Firdaus kemudian menjadi pelacur, itu memberinya uang, ia mampu memilih pelanggannya dan punya waktu untuk dirinya, namun itu profesi yang tidak terhormat. Firdaus kemudian berusaha mencari pekerjaan lain demi kehormatannya, ia kemudian menjadi karyawan. Namun ia juga menyadari, pada akhirnya karyawan adalah pelacur dalam bentuk yang lain. Firdaus kemudian menjadi seorang revolusioner, hanya untuk menyadari revolusioner pun sama-sama menjual dirinya. Ia kembali menjadi pelacur, kali ini ia dapat memasang harga yang sangat tinggi. Ia dapat mendapatkan kehormatan, namun kehormatan itu juga butuh banyak uang, ia memperoleh uang itu dengan menjual kehormatannya. Inilah lingkaran setan yang terus berlangsung sepanjang hidup firdaus. Demi kebebasan ia membunuh germonya. Suatu hal yang bahkan pangeran pun tidak percaya dapat Firdaus lakukan.
Firdaus tidak meminta pengampunan, ia merasa kematiannya adalah jalan menuju kebebasan dan kali ini ia tak memiliki ketakutan sama sekali. Ia telah melalui masa-masa pencarian yang panjang. Ia merasakan kebebasan justru akan ditemukannya setelah kematian. Sepanjang hidupnya ia telah terpenjara dalam kerangkeng yang dibuat dalam struktur masyarakat.
Cerita firdaus mungkin terlalu tragis bagi seorang perempuan. Namun Firdaus bisa jadi adalah simbol dari banyak perempuan yang masih hidup dalam represi, yang belum menemukan kebebasannya. Kritik terhadap dominasi laki-laki banyak dikemukakan di buku ini. Meskipun buku ini cukup pendek dan dapat aku selesaikan dalam 2 hari saja. Namun kedalaman isi serta kritikan yang ada di dalamnya sangat padat dan tajam.



