
Keajaiban Toko Kelontong Namiya by Keigo Higashino
My rating: 4 of 5 stars
Pak tua Namiya mengisi masa-masa terakhir hidupnya dengan membantu memecahkan permasalahan orang lain, awalnya hanya masalah sepele dan kekanakan yang ditulis para anak-anak dan bahkan ada yang membanjiri lubang surat dengan tigapuluh surat yang jelas terlihat ditulis oleh orang yang sama , meskipun begitu pak tua Namiya selalu membalas pertanyaan dan permasalahan tersebut dengan sungguh-sungguh.
“Entah berisi hinaan atau hanya ulah iseng, semua orang yang mengirimkan surat ke Toko Kelontong Namiya pada dasarnya adalah orang-orang yang ingin menceritakan masalah mereka. Di dalam hati mereka seperti ada lubang menganga dan semua hal yang berharga bagi mereka mengalir keluar dari sana. … Coba pikir baik-baik. Seandainya benar surat itu keisengan belaka, tetap saja dia mengeluarkan banyak tenaga untuk menulis tiga puluh pucuk surat seperti itu. Orang yang mau bersusah payah melakukannya pasti mengarapkan jawaban. Karena itu aku memutuskan menulis surat balasan. Aku membalasnya sepenuh hati karena tidak bisa mengaibaikan suara hati seseorang seperti dia” – Kakek Namiya
Sebuah keajaiban muncul pada sebuah malam di Toko Kelontong Namiya. Tiga orang pemuda berandalan dapat berkorespondensi dengan orang yang ada dimasa lalu, menjawab berbagai persoalan kehidupan. Seperti yang dulu pernah dilakukan Pak tua Namiya.
Permasalahan pertama yang dijawab oleh ketiga pemuda itu adalah permasalahan seorang atlit pelatnas jepang yang kebingungan antara harus melanjutkan seleksi dan latihan untuk olimpiade atau merawat kekasihnya yang sedang sakit parah dan diambang kematian. Berbeda dengan Pak tua Namiya yang menjawab semua pertanyaan dengan serius, pada awalnya para pemuda ini menjawab masalah tersebut dengan cara praktis, singkat dan tidak terlalu memikirkan kondisi sang penanya.
Keigo Higashino sangat mahir memainkan cerita. Premis diatas mungkin akan membuat pembaca bosan, apalagi korespondensi tidak dilakukan hanya kepada satu orang, ada kemungkinan perulangan, namun itu tidak terjadi dibuku ini, setiap babnya sang penulis memainkan berbagai sudut pandang yang terus berganti dari satu tokoh ke tokoh lain, dari satu waktu ke waktu lain, dan dari satu generasi ke generasi lain. Permasalahan masing-masing tokoh berbeda satu sama lain, namun benang merah dan keterkaitannya antara satu dengan yang lain disulam secara apik.
Apabila Keigo Higashino, diberi beberapa keyword yang random, ia juga akan bisa meramu itu menjadi tulisan yang terhubung satu sama lain. Hal ini karena sulit rasanya menghubungkan antara olimpiade, toko ikan, the beatles, dan gelembung ekonomi jepang; tema yang diangkat dalam buku ini ke dalam satu kesatuan yang saling berkelindan. Harus diakui, si penulis ini memang cerdik dan matang.
Walaupun beberapa reviewer menggolongkan novel ini ke dalam realisme magis, aku sendiri tak terlalu sepakat dengan itu klasifikasi itu, kemagisan dalam novel ini hanya ada satu, yaitu terhubungnya waktu antara masa lalu dan masa kini di Toko Kelontong Namiya dalam sebuah peristiwa satu malam. Peristiwa di Toko Namiya adalah sebuah keajaiban dan bukan sesuatu yang lumrah terjadi, jadi kurang tepat rasanya menggolongkan ini sebagai realisme magis. Bahkan Keigo Higashino sendiri berupaya membatasi kemungkinan-kemungkinan liar yang mengacaukan linimasa, sehingga para 3 pemuda berandal itu sendiri sudah memiliki kesadaran untuk tak mengungkapkan kebenaran terlalu eksplisit atau merubah nasib orang di masa lalu.
Buku ini cukup populer di Indonesia, reviewnya bahkan mencapai 400 an lebih. Kurasa para pembacanya juga rata-rata sama dengan diriku yang berumur 20 an. Korespondensi dengan surat adalah hal yang sangat asing bagi generasi ini dan setelahnya, namun ada rasa kehangatan dalam korespondensi surat tersebut. Walaupun surat-surat tersebut dikirim secara anonim, ada sesuatu dalam diri tokoh-tokoh yang menggerakkan untuk tak menulis surat secara asal-asalan, semua tokoh dalam buku ini berusaha menulis surat dengan sebaik-baiknya dan sejujur-jujurnya, dan kurasa dengan itu mereka semua menemukan diri mereka masing-masing dari proses itu, terlepas dari jawaban yang diberikan Toko Kelontong Namiya.



