Resensi: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Share the Post:
"Buku adalah perpanjangan Ingatan dan Imajinasi". Namun ketika ingatan dan imajinasi itu tidak sesuai dengan keingin seseorang atau sekelompok orang, keinginan untuk menghilangkan dan memusnahkan yang lain atau yang berbeda pastilah muncul.
Image by Anuj Chawla from Pixabay
Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Penghancuran Buku dari Masa ke Masa by Fernando Báez
My rating: 3 of 5 stars.

Harus diakui bahwa ada kalanya aku menilai sebuah buku dari covernya. Rasanya ini adalah buku dengan tema paling random yang aku baca setelah Buzz, Sting, Bite: Why We Need Insects tahun lalu.

Buku terbitan marjin kiri ini covernya puitik sekali. Sebuah cover buku dengan efek terbakar di bagian samping lengkap dengan lubang sundutan api, berjudul Penghancuran Buku dari Masa ke Masa. Wah, keren banget lah. Metode pembakaran sendiri adalah adalah metode yang paling populer untuk menghancurkan buku, baik itu yang disengaja maupun tak disengaja. Selain menghancurkan fisik buku, pembakaran juga merupakan sebuah simbol; kebencian; penyiksaan; hukuman.

Penemuan tulisan adalah lompatan bersejarah manusia sejak penemuan Api dan Agrikultur. Pertukaran informasi, pengetahuan, komunikasi, hingga birokrasi jadi lebih mudah. Mengutip dari Borges “Buku adalah perpanjangan Ingatan dan Imajinasi”. Namun ketika ingatan dan imajinasi itu tidak sesuai dengan keingin seseorang atau sekelompok orang, keinginan untuk menghilangkan dan memusnahkan yang lain atau yang berbeda pastilah muncul.

Orang-orang Romawi punya istilah Damnatio Memoriae, sebuah proses dimana senat Romawi menjatuhkan “hukuman atas ingatan”, nama mereka dihapus dari semua inskripsi, buku, dan monumen agar dilupakan oleh generasi mendatang

Dari sinilah aku jadi bisa memahami ketika banyak penulis novel berlatar historis sering berkata bahwa apa yang mereka tulisan adalah bagian dari sebuah usaha untuk merawat ingatan.

Bagian pendahuluan adalah bagian yang sangat bagus namun sangat aku sayangkan karena terlalu pendek. Penulis bahkan membagi-bagi bagaimana pemusnahan buku terjadi, mulai dari penyebabnya, alasan-alasan yang mendasarinya, metode-metode yang biasa digunakan. Namun karena judulnya pendahuluan ya benar sih, bagian inilah yang sukses memancingku untuk beralih ke halaman-halaman berikutnya.

Pembagian buku ini sangat sederhana bagian pertama membahas penghancuran buku di masa kuno, kemudian masa Byzantium hingga abad ke 19, dan ditutup dengan penghancuran buku era modern. Semua bab atau sub-bab tidak saling terkait satu sama lain sehingga tidak perlu dibaca runtut dari depan hingga akhir seperti yang juga disarankan oleh penulis.

Membaca dokumentasi penghancuran buku dari masa ke masa tentu saja membuat ngeri, namun menengok dari peristiwa-peristiwa tersebut setidaknya kita jadi tahu bahwa pernah ada sebuah peradaban di tempat tersebut. Nah, kepikiranlah wah penghancuran buku di Indonesia di mulai sejak kapan yaa ? 1 peristiwa yang muncul membahas tentang Indonesia hanyalah pembakaran buku sejarah yang terjadi di tahun 2007. Loh, negara sebesar ini masak cuma secuil ? makin besarlah dugaanku bahwa Indonesia ini emang the biggest unknown in the world. Bahkan dokumentasi wikipedia https://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_… tentang pembakaran paling tertua adalah di tahun 1637. Prasasti tertua yang ditemukan adalah berkisar abad ke 4 masehi, jangan-jangan jagoan penghancur buku paling handal adalah Warga Nusantara, kalau bukan karena orangnya ya paling tidak karena iklimnya. Itu cuma imajinasi ngawur aja sih…hehehe

Hal yang membuat tercengang adalah jumlah koleksi yang berjibun banyaknya untuk ukuran zamannya. Penulis dan pembaca dimasa lalu jelas lebih sedikit dari saat ini, namun koleksi koleksinya banyak. Kesulitan dalam membaca buku ini adalah ketika penulis menyebut nama-nama yang aku ragu sebenarnya terkenal atau hanya nama yang diketahui karyanya hilang pada masa tersebut. Sebab, beberapa penulis diberi deksripsi mengenai seberapa penting sumbangan intelektualnya, sedang yang lain hanya disebut nama atau judul bukunya sambil lalu saja.

Nice book !

View all my reviews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts