Resensi: The Girl Who Smiled Beads

Share the Post:
Kengerian yang memisahkan Clemantine dari keluarganya adalah Genosida Rwanda
The Girl Who Smiled Beads rendered by AI

Bagi sebagian orang, nama Clemantine Wamariya mungkin pertama kali dikenal melalui penampilannya di acara televisi Oprah Winfrey. Ia menjadi sorotan setelah memenangkan kontes esai sekolah menengah, yang kemudian membawa pada momen emosional di mana ia dan kakaknya, Claire, mengetahui bahwa orang tua mereka yang dikira sudah meninggal akibat genosida ternyata masih hidup. Paman mereka yang pertama kali memberikan kabar tersebut: “Your parents—they are still alive, still in Kigali”

Kengerian yang memisahkan Clemantine dari keluarganya adalah Genosida Rwanda, sebuah tragedi yang bermula pada 8 April 1994. Akar dari pembantaian ini ditarik jauh hingga ke masa penjajahan, ketika bangsa Belgia memecah belah rakyat Rwanda dengan menetapkan identitas etnis Hutu dan Tutsi berdasarkan Pseudo-sains – Pengukuran tengkorak dan hidung, yang secara historis dikenal sebagai Kraniometri (pengukuran tengkorak) dan Fisiognomi (analisis fitur wajah). Kolonial Belgia mendoktrin bahwa etnis Tutsi lebih unggul, sementara Hutu dianggap bodoh dan malas. Hal ini menimbulkan ketidaksetaraan di kalangan penduduk asli. Tutsi menjadi bagian dari Pemerintah sedangkan Hutu termarjinalisasi. Puncak dari kebencian warisan ini meledak ketika kelompok radikal Hutu Power menggunakan siaran radio untuk menyebarkan propaganda keji; mereka menyebut etnis Tutsi sebagai kecoak (inyenzi) yang menyebabkan kemiskinan dan menodai perempuan, sehingga harus dibasmi. Tragedi ini dibiarkan semakin kelam karena komunitas internasional dan pasukan perdamaian PBB justru angkat kaki dan meninggalkan rakyat Rwanda menghadapi pembantaian massal tersebut sendirian.

Rute Panjang

Hal pertama yang membuatku tercengang adalah rute panjang yang harus dilalui oleh Clemantine. Sejak melarikan diri di usia enam tahun, ia dan kakaknya menghabiskan waktu bertahun-tahun sebagai pengungsi. “Claire and I had lived in seven different countries since leaving Rwanda. The United States was our eighth”. Rute ini sangat menguras fisik dan emosi; mereka berjalan kaki hingga kelelahan, berdesakan di bus, hingga membuang barang berharga di perahu kecil di Danau Tanganyika agar tidak karam. Clemantine dengan tepat menggambarkan keputusasaan kehilangan akar ini: “It’s strange, how you go from being a person who is away from home to a person with no home at all. The place that is supposed to want you has pushed you out. No other place takes you in. You are unwanted, by everyone. You are a refugee”

Resiliensi Luar Biasa Seorang Kakak

Bintang utama kelangsungan hidup mereka adalah Claire. Resiliensi Claire sungguh luar biasa. Ia menolak menjadi korban yang pasrah dan sangat berhati-hati dengan kebaikan orang lain. “Claire taught me never to accept gifts. She learned this from our mother. There are no gifts, Claire said. No candy, no bread, especially from men. She insisted on figuring out how to survive indebted to no one, so she hustled”.

Ketangguhan Claire juga sangat ditopang oleh kecerdasannya dalam berkomunikasi. Di tengah pelarian yang berpindah-pindah, Claire mampu menguasai dan berbicara dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Swahili, Kirundi, Kinyarwanda, dan Prancis. Kemampuan multibahasa ini bukanlah sekadar kelebihan akademis, melainkan alat bertahan hidup yang sangat krusial.

Kefasihannya ini sering kali berhasil meruntuhkan stereotip dan mengejutkan para pekerja bantuan kemanusiaan di kamp pengungsian, yang kerap tidak menyangka bahwa seorang pengungsi ternyata bisa berbicara hingga lima bahasa atau memiliki kecerdasan intelektual yang tajam. Claire memanfaatkan betul kemampuan bahasanya ini untuk membangun jaringan, bernegosiasi, dan melancarkan “bisnisnya”. Sebagai contoh, ketika berada di kamp Dzaleka di Malawi, ia secara aktif menggunakan kemahirannya berbahasa untuk mengorek informasi dari para penghuni lama kamp tentang bagaimana cara mendapatkan seekor kambing.

Dengan kecerdikan dan ketajamannya, Claire menciptakan peluangnya sendiri, dari berjualan pakaian hingga berdagang kambing, karena “working as a black-market butcher gave Claire a sense of power”.

Budaya Patriarki: Jeroan Ayam adalah Simbol Kekuasaan

Ada satu detail budaya dalam buku ini terkait yang sistem patriarki Afrika. Di banyak tradisi Afrika, ampela ayam secara eksklusif diperuntukkan bagi pria. “In Africa, the gizzards are reserved for men. If a wife cooks a chicken and she serves it without saving the gizzard for her man, her husband might leave her”. Namun, Claire dengan berani mendobrak hal tersebut. Ketika Claire mampu menopang dirinya secara ekonomi, ia mampu membeli dan memakan jeroan ayam untuk dirinya sendiri. Bagi Claire, itu bukan sekadar perkara makanan: “They looked like testicles. But to Claire they tasted like victory. She was eating power”

Perempuan Korban Paling Rentan dalam Perang

Kisah tentang jeroan ayam itu mengantarkan kita pada realitas yang jauh lebih kelam: perempuan selalu menjadi korban kekerasan yang paling dirugikan dalam perang. Di kamp pengungsian, “Every woman was a target there. Our lives were impossible, hopeless”. Ancaman kekerasan seksual adalah kisah yang tak terpisahkan dari perempuan dan perang. Sejak balita, anak-anak perempuan di Rwanda telah diajarkan kata konona yang berarti “hancur” atau diperkosa. “The word itself does such violence. Because once you’re ruined, that’s it, that’s what the word tells you. The damage is permanent,” ungkap Clemantine dengan getir. Untuk mencari “tameng” perlindungan bagi dirinya dan adiknya dari pria-pria predator, Claire terpaksa menerima pinangan seorang pria bernama Rob, sebuah keputusan yang kelak membuatnya terperangkap dalam pusaran kekerasan rumah tangga.

Bukan Akhir yang “Happily Ever After” di Amerika

Meskipun akhirnya berhasil keluar dari Afrika, hidup Clemantine dan Claire tidak lantas berubah menjadi dongeng happily ever after di Amerika Serikat. Berada di lingkungan baru yang serba berlebih justru memunculkan tantangan benturan budaya dan trauma mendalam. “I could not relax. Claire could not relax. Neither of us had any ability to enjoy this plush new world,” kenang Clemantine. Karena Claire tiba di Amerika bukan lagi sebagai anak-anak, ia tidak mendapatkan dukungan adaptasi dan pendidikan gratis seperti yang diterima adiknya. Mereka juga dihadapkan pada birokrasi yang melelahkan, seperti saat Clemantine kesulitan mendapatkan kartu identitas yang membuatnya merasa eksistensinya tidak diakui secara utuh oleh negara.

Namun pada akhirnya, jaminan keamanan di negara baru tersebut memberikan mereka peluang nyata untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Clemantine menyadari sepenuhnya anugerah tersebut: “it is a privilege to have the safety, time, comfort, and education to try to shape my experience into something coherent”. keamanan membukakan pintu bagi Clemantine untuk menempuh pendidikan tinggi hingga diterima di Yale University. Keamanan di Amerika juga memberi Claire landasan untuk akhirnya melepaskan diri dari jerat pernikahan abusif bersama Rob, dengan menjadi warga negara Amerika Serikat secara resmi. Claire terus menebar kebaikan dengan memasak untuk puluhan pengungsi di komunitasnya.

Membaca memoar The Girl Who Smiled Beads membuatku merenungkan satu hal yang sering kita anggap remeh: Masa damai panjang dapat aku rasakan di Jawa khususnya adalah sebuah anugerah. Buku ini benar-benar membuka mata tentang betapa merusaknya perang dan perjuangan panjang untuk bertahan hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts