Perjalanan Tara Westover Menemukan Pendidikan dan Identitas Diri

Share the Post:
Tak heran buku ini menjadi nomor satu di beberapa Chart dan menjadi bacaan terbaik goodreads tahun 2018.

Tara Westover penulis memoar ini tumbuh di Clifton, Idaho, sebuah wilayah pegunungan yang keras dan terpencil. Jika kamu melihat Amerika Serikat melalui google earth, lalu memperbesar ke Negara Bagian Idaho dan membuka streetmaps untuk area Clifton, kamu akan menyadari betapa kehidupan Amerika di Clifton bukanlah Amerika yang hiruk pikuk seperti New York atau Los Angeles. Kehidupan ala Clifton sesekali mungkin muncul dalam film sebagai tempat berhantu atau tempat misteri pembunuhan dan teror yang lama tak terpecahkan. Clifton adalah tempat di mana ketenangan dan isolasi mendominasi, kehidupan yang lebih dekat dengan alam dan jauh dari pengaruh dunia modern.

Clifton, Idaho. Terasa Mirip Desa di Indonesia
Papa Jay’s tempat Tara bekerja paruh waktu

Keluarga Westover tumbuh, tinggal, dan bekerja di Clifton yang sepi. Jauh dari layanan publik, jauh dari pengaruh pemerintah dan institusi modern. Keluarga Westover dan mayoritas warga di Clifton adalah penganut ajaran Mormon. Mormonisme atau Ajaran Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir (The Church of Jesus Christ of Latter Day Saints), didirikan oleh Joseph Smith pada tahun 1830. Inti dari ajaran Mormonisme menggabungkan keyakinan Kristen dengan wahyu baru yang diyakini diterima melalui Joseph Smith, kebanyakan menekankan pentingnya keluarga, etika moral yang kuat, dan keberlanjutan wahyu ilahi. Tara merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara di Keluarga Westover. Jangan dikira Tara tumbuh saat generasi Boomer yaa. Tara Lahir pada 1986 atau itulah yang diyakini oleh Ibunya, sebab Tara baru mendapatkan akta kelahirannya saat berumur 9 tahun. Angka rata-rata kelahiran Mormon memang diatas rata-rata nasional Amerika.

Pengikut Mormon secara demografis, sosial dan ekonomi sebenarnya cukup beragam. Hanya saja Interpretasi keluarga Westover terhadap ajaran ini termasuk sangat konservatif dan radikal. Gene, ayah dari Tara yakin pada akhir zaman (yang akan terjadi sangat dekat) dan mempersiapkan keluarganya untuk menghadapi apokalips. Ia juga sangat skeptis terhadap pengobatan medis ilmiah dan memandang sekolah sebagai alat doktrinasi pemerintah. Pemikiran mereka mencerminkan bentuk ekstrem dari keyakinan agama yang menolak semua bentuk kemajuan dan kontrol pemerintah. Pemikiran ekstrim di tempat yang terisolasi bak pohon yang tumbuh dengan sinar matahari dan nutrien yang cukup: mengakar kuat.

Dalam hal pendidikan, anak-anak Westover tidak dikirim ke sekolah umum. Sebaliknya, mereka diberi pendidikan di rumah yang sangat terbatas, yang sebagian besar berfokus pada pekerjaan di rumah dan persiapan untuk menghadapi akhir zaman. Tara tak pernah duduk di kelas atau mengerjakan ujian, ketika ia mengerjakan Test SAT untuk pertama kalinya dan bertanya bagaimana caranya, sang pengawas ujian terheran-heran. Tercerabut dari realitas memang sangatlah berat. Orang-orang akan memiliki ekspektasi bahwa kamu sudah menguasai pengetahuan, keterampilan dan sikap tertentu sesuai umur. Ekspektasi orang-orang dan realitas yang dijalani Tara menjadi tantangan yang harus ia hadapi sepanjang buku ini.

Membaca perjuangan Tara membuatku teringat pada hasil studi Ferris State University tentang “The Five Stages of Knowing” yang menjelaskan tahap-tahap internalisasi pengetahuan pada perempuan, yang meliputi Silence, Received Knowledge, Subjective Knowledge, Procedural Knowledge, dan Constructed Knowledge.

Silence: Tara memulai hidupnya dalam ‘kesunyian’ metaforis, sangat terbatas dalam akses terhadap pengetahuan formal dan dihadang oleh otoritas ayahnya.

Received Knowledge: Di tahap awal pendidikannya, Tara menerima pengetahuan dan doktrin dari keluarganya tanpa banyak mempertanyakan.

Subjective Knowledge: Saat mulai berkuliah dan berinteraksi dengan orang-orang di luar keluarga Westover, Tara mulai menilai pengetahuan dan pengalaman dari sudut pandangnya sendiri, yang sering kali menimbulkan konflik internal dan konflik dengan keluarganya.

Procedural Knowledge: Pendidikan lanjutan di Universitas Brigham Young dan Cambridge memberinya alat dan kerangka kerja untuk menganalisis pengetahuan secara kritis.

Constructed Knowledge: Pada akhirnya, Tara mencapai tahap di mana ia mampu menyintesiskan informasi dan pengalaman masa lalunya dengan pemahaman baru yang diperolehnya melalui pendidikan, membentuk identitasnya yang baru.

“Educated: Terdidik” adalah memoar yang bukan hanya menceritakan perjalanan luar biasa seorang perempuan dalam meraih pendidikan, tetapi juga refleksi mendalam tentang kebebasan intelektual, penemuan diri, dan ketahanan menghadapi kehidupan yang penuh keterbatasan dan tantangan. Tara Westover telah menunjukkan bahwa setiap individu, apapun latar belakangnya, punya kekuatan untuk mengubah hidupnya melalui pendidikan, yang kemudian menjadi keberanian melawan ketidakadilan. Tak heran buku ini menjadi nomor satu di beberapa Chart dan menjadi bacaan terbaik goodreads tahun 2018. Buku lain yang sama menginspirasinya untuk dampak pendidikan terhadap kelompok masyarakat bisa kamu baca dalam Melawan Setan Bermata Runcing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts