Membaca Karya Sastra Tetangga
Di suatu waktu, saya pernah membaca tulisan Eka Kurniawan – Sastrawan Indonesia yang pernah memenangkan Penghargaan S.E.A Write Awards. Ia menyoroti realitas kesusatraan di Asia Tenggara: kita sebagai warga ASEAN, yang secara geografis berdekatan, tak pernah membaca karya sastra satu sama lain. ASEAN memang dekat secara geografis namun Bahasa Ibu kita beragam, Agama mayoritas di masing-masing Negara juga beragam, bahkan mitra dagang dan penjajah yang menguasai ASEAN dimasa lalu juga beragam. Ada keragaman yang mencolok di ASEAN, hanya saja keragaman tersebut membuat Negara-negara ASEAN saling asing satu sama lain. Aku membaca tulisan tersebut sambil manggut-manggut setuju. Jika diminta menyebutkan Film Thailand atau Filiphina setidaknya aku tahu satu-dua judul. Jika diminta menyebutkan musisi Malaysia, setidaknya aku bisa menjawab “Siti Nurhaliza”. Tapi aku tak tahu dan belum pernah membaca Buku dari Asia Tenggara.
Sejak 2020, aku mencoba untuk membaca buku fiksi dari Luar Indonesia dan Luar Eropa-Amerika Utara. Aku memulainya dengan membaca Persepolis – sebuah novel grafis dari Perempuan Iran. Selain itu aku juga membaca The God of Small Things karya Arundhati Roy yang merupakan Aktivis dari India. Buku fiksi dari Luar Indonesia dan Eropa-Amerika yang aku review adalah Perempuan di Titik Nol oleh Nawaal El Saadawi (Mesir). Semua karya tersebut dapat aku akses dengan mudah karena telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Sama seperti realitas yang dikemukakan oleh Eka Kurniawan, tak satupun karya tersebut berasal dari ASEAN.
Aku sudah mencari beberapa Karya dari ASEAN yang layak dibaca, hanya saja sulit menemukan yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Pada akhirnya, agar bisa membaca karya sastra ASEAN, kita harus bertemu di tengah, karya sastra ASEAN yang bisa kubaca hanyalah karya yang sudah di terjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Karena kemampuan bahasa Inggris yang masih pas-pasan, maka aku tak berani memilih Karya Sastra Berat secara Kuantitas dan Kualitas. Aku memulainya dengan mencari buku yang tidak terlalu tebal dan harganya terjangkau.
The Happiness of Kati
The Happiness of Kati karya Jane Vejjajiva, Buku ini hanya memiliki tebal 139 Halaman. Tak terlalu banyak sehingga tidak membuatku ketakutan tak bisa menyelesaikannya. Novel yang menceritakan kehidupan seorang anak perempuan berusia sembilan tahun bernama Kati, yang tinggal bersama nenek dan kakeknya di pedesaan Thailand.
Penggunaan Sudut Pandang
Perspektif novel yang menggunakan sudut pandang (point of view) anak kecil. Penggunaan sudut pandang ini menurutku adalah alasan mengapa buku ini juga dibaca khalayak luas diluar negara asalnya. Sudut pandang anak-anak akan lebih mudah dipahami oleh pembaca. Anak-anak biasanya menggunakan kosakata yang lebih sederhana dan struktur kalimat yang lebih simpel. Anak-anak cenderung berpikir dan berbicara secara langsung tanpa banyak lapisan makna sehingga alur pikiran karakter lebih mudah dipahami. Melihat dunia melalui mata anak kecil bisa memberikan sudut pandang yang segar dan berbeda, selain itu banyak pengalaman yang diceritakan dari sudut pandang anak kecil adalah hal-hal umum yang sebagian besar orang pernah alami sendiri ketika mereka masih kecil, seperti pergi ke sekolah, bermain, atau belajar sesuatu yang baru. Kejelasan, kesederhanaan, dan kedekatan emosional yang membuatnya lebih mudah diakses dan dipahami oleh pembaca dari berbagai latar belakang dan usia.

Cerita dibuka dengan bagaimana kehidupan Kati di Pedesaan di luar kota Bangkok. Kati tinggal di Rumah Tradisional Thailand, rumah itu sebenarnya besar, tapi telah direnovasi sehingga menyisakan bagian-bagian yang cukup untuk bisa dirawat oleh kakek-nenek Kati. Di sekeliling rumah masih terdapat sawah hijau yang luas, pohon-pohon besar, dan sungai yang mengalir jernih. Keluarga Kati dan Lingkungannnya masih sering merayakan festival-festival tradisional.
Kakek Kati – merupakan pensiuanan pengacara- sering bepergian dengan menggunakan perahu dayung untuk memberikan konsultasi hukum kepada warga desa. Aktivitas Kati selain sekolah adalah bermain dengan teman-temannya. Aktifitas yang sering Kati lakukan disaat senggang adalah mengamati burung-burung dari sungai bersama sahabatnya Tong.
Kehidupan Kati di desa menggambarkan kedamaian, kehidupan keluarga yang hangat, budaya dan tradisi lokal yang kuat, serta interaksi erat dengan alam.
Dibalik kedamaian kehidupan Desa, tentu saja ada hal yang mengganjal bagi Kati – dan juga bagi pembaca tentunya, yaitu mengenai keberadaan orang tua Kati. Disetiap awal bab buku selalu ada kalimat suspen mengenai Ibu Kati. Ia pergi saat Kati berusia empat tahun, apakah pergi secara fisik? pergi dalam arti mangkat?.
Berbagai suspen itu akhirnya terbuka. Ibu Kati menderita ALS (Amyotrophic Lateral Sclerosis), sebuah penyakit yang tidak bisa disembuhkan. ALS adalah penyakit yang fatal, dan harapan hidup rata-rata setelah diagnosis biasanya adalah 3 hingga 5 tahun. Selama lima tahun tak hadir dalam kehidupan Kati, ibunya sedang dalam upaya pengobatan. Penyakit ini menyerang sel-sel saraf motorik di otak dan sumsum tulang belakang yang bertanggung jawab atas pengendalian gerakan otot sukarela. Seiring dengan berjalannya waktu, ALS menyebabkan kelemahan otot yang parah, degenerasi otot, dan akhirnya kehilangan kemampuan untuk mengendalikan gerakan tubuh. Hasil akhir dari penyakit ini tentu bisa ditebak: Kematian.
Kati bertemu dengan Ibunya dalam tahapan akhir penyakitnya. Kisah masih terus berlanjut tentunya, aku tak akan menceritakan semuanya disini. Jane Vejjajiva berhasil menyuguhkan sebuah cerita yang begitu menyentuh dan penuh makna melalui novel ini. Cinta, kehilangan, keberanian, dan penerimaan. Penulis dengan cemerlang menggambarkan bagaimana seorang anak kecil dapat memperlihatkan ketahanan emosional dan kekuatan hati dalam menghadapi cobaan.
Buku tipis ini benar-benar menyajikan cerita yang menarik. Alurnya memang agak lambat di beberapa bagian, namun ini tidak mengurangi kekuatan narasi dan pesan moral yang disampaikan.



