Pembicara TED

Tim Urban adalah Penulis Blog Wait but Why. Aku pertama kali mengetahui Tim Urban dari sebuah video TED mengenai Prokrastinasi – perilaku menunda pengerjaan tugas dengan sengaja. Penggambaran mengenai fenomena tersebut dijelaskan dengan sangat gamblang dan mudah dipahami serta yang paling penting adalah disampaikan dengan cara yang menghibur. Narasi prokrastinasi yang Tim Urban bangun berkutat pada pengalaman menulis untuk Blognya, sehingga ketertarikan terhadap pembicaraannya di TED membuat aku mengunjungi Blognya.
Studi Tiru untuk Tumblr

Tampilan Website Wait but Why sendiri sangat sederhana, topiknya lumayan beragam dengan karakter tulisan panjang yang diiringi dengan gambar doddle manusia dan grafik/diagram yang kelihatannya aneh tapi masuk akal. Tulisan format panjang sangat jarang aku temui sehingga aku mencoba mengkopi apa yang dilakukan Tim Urban pada Wait but Why ke Tumblr ku. Pendekatan uniknya dalam mengurai masalah kompleks dengan humor dan analisis mendalam membuat materi yang serius bisa disajikan dengan cara yang ringan dan mudah dicerna. Hal ini sungguh membuka mataku tentang pentingnya menyajikan kandungan yang tidak hanya informatif tapi juga menghibur dan relevan, sebuah pendekatan yang terus kucoba terapkan dalam blog Tumblr-ku . 6 Postingan terakhir dalam halaman Tumblr-ku memiliki kesamaan dengan format dan topik dengan tulisan-tulisan yang ada di Wait but Why. I tried to optimize, tapi sepertinya masih terlalu mentah dan kurang terarah..hehe. Website ini pun sebagian ide mengenai simplicity-nya mengambil inspirasi dari wait but why.
Artikel Panjang ke Buku

Pada awal 2023 aku menerima email dari wait but why yang mengabarkan akan ada peluncuran buku berjudul What’s Our Problem – a Self-Help book for Society karya Tim Urban. Sebuah buku mengenai keprihatinannya terhadap kondisi Masyarakat terutama dalam bidang sosial-politik di Amerika Serikat pasca Donald Trump terpilih. Buku ini adalah hasil dari tulisan yang niat awalnya adalah sebuah post di blog yang berubah menjadi terlalu liar sehingga menghasilkan pembahasan yang amat panjang. Buku ini merupakan buku perdana yang ditulis oleh Tim Urban dan memakan waktu selama 6 tahun. Ketika menerima email itu aku hanya memasukkan buku ini ke dalam list panjang buku-buku yang harus aku baca. Wisdom of a broke reader adalah jangan membeli buku cetakan pertama. Sebab harganya pasti masih mahal. Sub-judulnya juga membuatku sedikit khawatir, sebab a Self-Help book biasanya tidak menolong dan tidak untuk diri sendiri. So, I’m on wait and see mode.
Waktu yang tepat: Pemilu 2024

Saat Indonesia sedang bersiap untuk suatu perubahan politik penting, premise yang ditawarkan buku ini pada awal 2023 menjadi menarik ketika Pemilu 2024 telah mendekat. So, I decided to give it a try. Saya berencana menyelesaikan buku ini tepat sebelum pemungutan suara pemilu 2024, hanya saja materi yang sangat mendalam dan buku yang tebal (797 Halaman) walaupun dikemas dengan bahasa yang sangat mudah tetap membuat keinginan itu tak tercapai.
Kita Hidup dalam Masa yang benar-benar berbeda
Buku ini dibuka dengan The Story of Us. Bagian ini berupaya untuk melihat gambaran besar mengenai posisi kita saat ini. Tim Urban membuat visualisasi mengenai keberadaan Manusia apabila di umpakan sebagai sebuah buku dengan tebal 1.000 halaman. Maka, masa yang kita jalani saat ini hanyalah berada di halaman ke 1.000 saja. Revolusi terbesar manusia yaitu revlousi agrikultur baru terjadi pada halaman 990. Mayoritas Hidup Spesies Manusia di muka bumi, sebanyak 900 an halaman dihabiskan sebagai Pemburu-Pengumpul.

Visualiasi ini cukup kuat untuk membuat premise bahwa secara evolusioner tubuh dan mentalitas manusia lebih banyak berevolusi untuk kepentingan sebagai pemburu-pengumpul yang tinggal dalam kelompok masyarakat kecil ketimbang masyarakat dengan berbagai spesialiasi dalam kelompok masyarakat mega-besar. Hal ini mengingatkanku akan tulisan Jared Diamond dalam Buku “The World Until Yesterday”, mengenai kehidupan masyarakat tradisional. Diamond memaparkan bagaimana struktur masyarakat, perilaku, dan cara penyelesaian konflik sangat berbeda antara masyarakat tradisional dan modern. Hal ini pula lah yang ingin disampaikan oleh Tim Urban. Ia mengatakan bahwa teknologi membuat perkembangan Masyarakat di 250 tahun terakhir benar-benar berbeda. Secara ekstrim, Tim Urban bilang bahwa Manusia yang hidup di Abad ke-13 bisa menyesuaikan hidupnya dengan lebih mudah jika melakukan perjalanan waktu ke abad-16, sebab perubahan teknologi tidak terlalu masif. Namun Manusia yang hidup di abad 18 tidak mungkin bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan abad 20 akibat perkembangan teknologi yang eksponensial.
Faktor Lingkungan
Tim Urban menjelaskan bahwa hal yang membuat Manusia bisa menjadi sangat dominan dan unik ketimbang makhluk lainnya adalah kemampuannya dalam beradaptasi dan mengelola lingkungan. Keterkaitan antara Human Nature, Environment, dan Behavior adalah suatu tema yang sering dibahas dalam berbagai disiplin ilmu seperti psikologi, sosiologi, dan ekologi perilaku. Ketiga konsep ini saling terkait dan mempengaruhi satu sama lain dalam membentuk bagaimana manusia bertindak dan berinteraksi dalam lingkungan mereka.

Kuadran Sosial-Politik
Tim Urban membangun kerangka kerja pikir sebagai berikut: Ide atau pandangan politik bisa diletakkan pada satu dari empat kuadran dalam bidang dua dimensi. Di sumbu horizontal, ide-ide tersebut bisa berkisar dari konservatif hingga liberal (mengambil contoh Amerika Serikat), sementara sumbu vertikal menilai kualitas dan kedalaman pemikiran di balik ide tersebut, dari yang sangat baik hingga yang kurang memadai. Separuh buku ini mencoba untuk menjabarkan masing-masing kuadran serta efeknya bagi kehidupan di masyarakat. Kupikir Spektrum Vertikal inilah yang lebih bermanfaat sebab dapat digunakan untuk situasi sosial-politik negara lain.
Meskipun begitu, ada hal yang unik mengapa kuadran horizontal yang terdiri atas nilai/ide menjadi relevan pada buku ini. Situasi sosial-politik Amerika Serikat dimana ada pertentangan nilai/ide Liberal dan Konservatif yang didukung dengan alat-alat kuasa yang tersedia (Eksekutif, Legislatif dan Yudikatif) dan alat ekonomi (Insentif/Pajak) yang memungkinkan setiap kuadran hadir dan berkembang secara bebas. Hal ini mungkin tidak bisa terjadi misal di Negara yang memiliki Ideologi yang kaku, semisal Korea Utara. Kuadran Vertikal Mungkin akan muncul, namun kuadran Horizontal, yaitu pertarungan ide tak akan terjadi.
Level-level pada Kuadran Vertikal
Tim Urban memperkenalkan Karakter berupa:

Pikiran Primitif adalah sekumpulan instruksi terkode tentang cara menjadi hewan yang sukses di habitat alami hewan tersebut. Pencipta kode tersebut adalah seleksi alam: Sifat Fisik/Mental yang efektif dalam membuat hewannya dapat meneruskan gen-genya akan bertahan sedangkan yang kurang sukses tidak akan diturunkan. Seperti halnya Laron yang terbang ke Arah Lampu Jalanan karena mengira itu adalah Bulan. Ada banyak hal yang menurun dari sifat primitive kita yang dulunya berguna, namun menjadi bumerang di masa modern.

Pikiran yang lebih tinggi adalah bagian dari diri Anda yang berpikir di luar dirinya sendiri, merefleksikan diri, dan menjadi lebih bijak dengan pengalaman. Tidak seperti pikiran primitif, pikiran yang lebih tinggi dapat melihat sekeliling dan melihat dunia apa adanya. Pikiran ini dapat melihat bahwa Anda hidup dalam peradaban yang maju dan ingin berpikir serta berperilaku sesuai dengan itu.
Ia mampu mengevaluasi norma-norma sosial, nilai, dan etika dari sudut pandang yang lebih matang dengan tambahan dari pengetahuan atau informasi yang ada. Dengan kemampuan ini, pikiran yang lebih tinggi mendorong pertumbuhan pribadi dan pengembangan karakter yang lebih sejalan dengan kemajuan dan kompleksitas peradaban tempat kita berada.
Dikotomi ini sering ditemukan dalam berbagai Karya. Daniel Kahneman membagi kerangka pikir manusia menjadi Sistem Satu dan Sistem Dua dengan ciri yang mirip seperti yang dikemukan Tim Urban di atas. Kedua bentuk pemikiran tersebut ada dalam Individu maupun kelompok masyarakat. Sehingga dapat digambarkan sebagi berikut:

Tingkatan tertinggi dimana Higher Mind dominan adalah ketika Individu ataupun kelompok berfikir dan bekerja selayaknya Saintis, sebelum mengambil kesimpulan terlebih dahulu mengumpulkan dan menganalisis bukti-bukti yang ada secara mendalam.
Level dibawahnya adalah berfikir dan bekerja seperti Suporter sebuah Tim Olahraga, suporter memiliki Loyalitas yang tinggi namun tetap menjungjung tinggi integritas. Suporter tak ingin tim nya menang karena curang ataupun dicurangi, namun tetap selalu mendukung meskipun kalah.
Pengacara, memiliki kemampuan seperti saintifis namun loyalitasnya berada kepada siapa yang berani membayar atau posisinya dalam sebuah persidangan, sehingga argumen yang dikeluarkan pengacara bukanlah argumen untuk kepentingan banyak orang, melainkan kepentingan kelompok atau segelintir orang saja.
Zealot, sangat berdedikasi terhadap suatu keyakinan atau tujuan dan bersedia melakukan tindakan ekstrem untuk mendukung atau memajukan keyakinan tersebut. Kata ini sering memiliki konotasi negatif karena bisa merujuk pada seseorang yang fanatik atau tidak toleran terhadap pandangan yang berbeda. Tingkatan terendah dimana Primitive mind mendominasi ada pada zealot.
Efeknya dalam kelompok adalah Pemikiran yang dominan Primitive Mind akan menimbulkan Echo Chamber, sedangkan kelompok yang dominan Higher mind akan menghasilkan bermacam-macam ide. Dalam skala yang lebih masif dominasi primitive mind hanya akan saling membenturkan perbedaan, sedangkan higher mind akan menggerakan semangat kolaborasi.
Perlu diperhatikan bahwa tidak ada Individu yang memiliki Higher Mind secara Utuh untuk setiap Isu. Bisa saja dalam satu isu seseorang memiliki sifat yang dominan Higher Mind dan pada isu lain primitive mind nya lebih dominan. Penulis hanya memperingatkan bahwa Primitive Mind memiliki Magnet yang lebih kuat sebab faktor-faktor yang menyebabkan seseorang secara default berada pada kondisi tersebut lebih banyak dan energi yang dibutuhkan untuk berada pada posisi tersebut lebih sedikit.
Level-level pada Kuadran Horizontal
Secara sederhana Tim Urban menggambarkan Spektrum Sosial-Politik Amerika Serikat Secara Horizontal seperti berikut:

Setiap isu dalam masing-masing spektrum horizontal memiliki argumennya masing-masing. Dengan menggabungkan Spektrum Horizontal dan Vertikal maka dapat diperoleh keluaran sebagaimana berikut:

Efek dari Kuadran Bawah
Tribalisme dan Polarisasi

Tribalisme dalam politik mengacu pada perilaku atau sikap di mana individu atau kelompok cenderung berpihak secara kaku dan membela kepentingan kelompoknya sendiri tanpa mempertimbangkan pandangan atau kepentingan kelompok lain. Ini sering kali termanifestasi dalam bentuk loyalitas yang kuat dan biasanya eksklusif terhadap suatu partai atau kelompok politik tertentu, yang dapat mengarah pada konflik atau persaingan antar kelompok.
Polarisasi dalam politik adalah proses di mana pendapat dan sikap sebuah populasi terhadap isu-isu politik dan sosial menjadi lebih jauh terpisah ke ekstrem yang berlawanan. Ini sering kali mengakibatkan hilangnya ruang tengah, di mana kompromi dan diskusi menjadi sulit karena kedua belah pihak memiliki pandangan yang sangat keras dan tidak fleksibel. Polarisasi dapat diperparah oleh berbagai faktor, termasuk media yang bias, retorika yang memecah belah, dan pengaruh eksternal seperti propaganda atau misinformasi.
Keduanya, tribalisme dan polarisasi, mencerminkan dan menguatkan pembagian dalam masyarakat dan seringkali menghambat dialog efektif dan pencapaian solusi yang konstruktif untuk masalah sosial dan politik. Selain itu, kedua fenomena tersebut dapat mengurangi kemampuan sebuah masyarakat untuk bekerja secara kolektif dan menghormati prinsip-prinsip demokrasi, seperti toleransi dan pluralisme.
Tribalisme dan Polarisasi semakin parah ketika Media Mainstream pada akhirnya juga berpihak ke Salah Satu kutub. Algoritma Internet membuat penggunanya terjebak dalam Echo Chamber Virtual.
Supremasi Ideologi
Kecenderungan untuk saling mengarah ke ujung kutub Idelologi berefek pada kemenangan pemikiran ekstrim di masing-masing kutub. Hal ini membuat ide-ide ekstrim menjadi dominan di media sosial, media mainstream dan akhirnya masuk ke pembicaraan publik.

Supremasi Ideologi ini berbahaya ketika ia mulai masuk ke dalam institusi. Kekhawatiran ini tidak lah tanpa alasan, sebagian besar Universitas di Amerika memiliki kecenderungan terafiliasi dengan Idelogi tertentu baik itu Demokrat/Liberal ataupun Republikan/Konservatif. Adanya supremasi ideologi membuat para minoritas yang ada di Institusi Akademis tertekan, kehilangan suara, hingga akhirnya menciptakan Echo Chamber di Institusi yang harusnya berisi pemikiran yang sifatnya Higher Mind. Efeknya adalah adanya migrasi akademisi ke Institusi yang sesuai dengan afiliasi personal politik mereka. Akibatnya Institusi yang tadinya menyuarakan pluraritas berubah menjadi puritan. Institusi yang terkena pengaruh tidak hanya Institusi Akademis, supremasi ideologi menyebar ke Organisasi Profesi, Serikat Pekerja, Lembaga Swadaya Masyarakat hingga Perusahaan.

Kesimpulan
Tim Urban menerangkan bahwa kekacauan yang disebabkan oleh Primitive Mind di Kuadran Bawah menyebabkan Orang-orang atau kelompok yang berada di Kuadran atas namun tidak memiliki keberanian menjadi diam (silent).
Disisi lain, orang atau kelompok yang berani bersuara tenggelam dan tertutupi oleh keriuhan dari kelompok yang berada di kuadran bawah. Apabila orang-orang di kuadran atas mencoba berdiskusi dengan seseorang di kuadran bawah, mereka akan kesulitan karena berhadapan dengan orang-orang berpikiran sempit. Rasanya seperti berdebat dengan tembok.

Permasalahan sudah diterangkan secara sederhana, Buku Tim Urban membedah semua masalah diatas dan membedah secara dalam mengenai Social Justice Fundamentalism di Amerika Serikat. Solusi yang ditawarkan oleh Tim Urban dapat dibaca secara lengkap di Bukunya.
Membaca buku ini dan membandingkannya dengan Kondisi Politik di Indonesia sebenarnya sangatlah berkorelasi. Perbincangan politik di Indonesia baik di Media Sosial dan Mainstream masih di dominasi oleh Primitive Mind. Hanya saja secara ideologi memang Indonesia masih tidak punya stance yang jelas. Perbincangan Politik di Indonesia lebih di dominasi oleh personality cult ketimbang agenda yang sifatnya Idelologis. Namun tetap saja, kuadran bawah dalam kondisi spektrum horizontal manapun tetaplah berbahaya.
Sebagian besar orang—baik tua maupun muda, apapun warna kulitnya, progresif dan konservatif, Pribumi atau pendatang—adalah orang-orang yang berhati baik, sangat rasional, dan lebih mendambakan kesatuan daripada perpecahan.
Sebagian besar masyarakat mungkin merasa lelah atau apatis karena keriuhan yang dihasilkan oleh kelompok kuadran bawah ini. “Mayoritas yang kelelahan” ini adalah mereka yang tenggelam dalam kehidupan sehari-hari mereka sehingga tidak memiliki waktu atau energi untuk terlibat secara aktif dalam aktivisme atau perubahan sosial. Walaupun mungkin terlihat pasif atau tidak terlihat di permukaan, kelompok ini bisa memiliki pengaruh besar jika tersentuh oleh isu yang tepat atau dipimpin oleh pemicu yang efektif.



