Buku terjemahan ini muncul setelah versi filmnya rilis. Aku berencana membaca lalu menonton filmnya sebagai upaya untuk memperkaya pengalaman membaca, namun terus tertunda dan baru sekarang bisa membaca dan menonton filmnya secara marathon.
Sebagai generasi yang terekspos korean wave, sebenarnya fakta bahwa budaya korea yang amat patriarkis dan misoginis bukanlah sesuatu yang baru, namun membaca buku ini membuatku tersadar bukan cuma budaya korea saja yang patriarkis, budaya dan lingkungan ku sendiri pun juga begitu. Apa yang dialami Kim Ji-Yeong tidak hanya dialami perempuan korea saja namun juga perempuan-perempuan di tempat lainnya.
Berbagai jenis diskriminasi yang dialami perempuan digambarkan dengan baik, penggunaan timeline mulai dari Kim Ji-Yeong kecil hingga dewasa membuat pembaca bisa memahami bahwa diskriminasi ini berlangsung tidak hanya karena pekerjaan atau status Kim Ji-Yeong sebagai ibu yang mengalami stress pasca melahirkan saja. Pengalaman Nenek dan Ibu Kim Ji-Yeong yang kurang lebih sama dengan yang dialami Kim Ji-Yeong meskipun mereka berasal dari generasi yang berbeda juga memperkuat bahwa masalah yang dialami Kim Ji-Yeong juga bersifat struktural.
Dalam novela ini tentunya ada beberapa hal memang sangat Korea sekali, seperti Burbery Man, kasus Hidden Camera, dan penamaan anak yang mengikuti marga dari ayah, terkait marga dari ayah meskipun aturan hukum tersebut telah dihapus namun hal ini masih terus berlangsung. Satu lagi kebiasaan yang tertangkap dan korea banget adalah kebiasaan berkomentar atau berfikir out loud yang tentu saja menyakiti hati si pendengar.
Setiap kali Kim Ji-Yeong menghadapi masalah diskriminasi, ia secara sadar selalu menolak diperlakukan seperti itu, namun Kim Ji-Yeong selalu memilih diam dan tidak menyuarakan apa yang ada dalam pikiran dan perasaannya, ini menggambarkan betapa besar tekanan yang harus dihadapi hanya untuk bersuara saja. Tentunya dari berbagai pengalamannya tersebut, selalu ada perempuan lain yang dengan lantang menyuarakan dan membela hak nya, namun perempuan-perempuan itu langka. Kebanyakan perempuan mungkin akan bersikap sama seperti Kim Ji-Yeong, nama Ji-Yeong sendiri adalah nama anak perempuan populer di tahun 80 an, nama generik ini berfungsi sebagai simbol bahwa Ji-Yeong adalah mayoritas perempuan, diamnya Ji-Yeong adalah diamnya mayoritas perempuan.
Yang mengesalkan adalah bahkan suami Ji-Yeong yang sudah bersikap lumayan positif dan pengertian bahkan terkadang secara tak sadar menggunakan point of view nya sebagai laki-laki dan menganggap banyak hal yang membuat Ji-Yeong tak nyaman adalah suatu kelaziman. Bisa dibayangkan laki-laki yang tak peka dan pengertian yang jumlahnya lebih banyak seperti apa. Tak ada solusi langsung yang ditawarkan dari buku ini, dan itu lebih baik, kurasa setelah membaca pun ada kesadaran yang muncul untuk merubah sikap.
Share the Post:



